Tentang Rojolele
Rojolele merupakan varietas padi tradisional Indonesia yang secara historis melekat kuat pada wilayah Delanggu, Klaten, Jawa Tengah. Varietas ini dikenal luas karena karakteristiknya yang khas, yakni aroma yang wangi, tekstur nasi yang lembut dan pulen, bentuk butir pendek hingga sedang, serta kualitas kuliner yang premium. Meskipun saat ini nama “Rojolele” sering ditemukan sebagai label dagang beras di pasaran, secara teknis nama tersebut merujuk pada varietas tanaman padi, bukan kepada satu perusahaan atau produsen tunggal.1
Identitas kultural Rojolele tidak dapat dipisahkan dari sejarah pertanian Delanggu dan tradisi keraton di Jawa Tengah. Dalam beberapa dekade terakhir, Rojolele juga menjadi induk bagi varietas unggul baru seperti Rojolele Srinuk dan Rojolele Srinar. Pengembangan ini bertujuan mempertahankan keunggulan mutu beras tradisional sekaligus mengatasi kelemahan agronomisnya.
Tinjauan Umum
| Atribut | Informasi |
|---|---|
| Nama | Rojolele / Rojo Lele |
| Jenis | Varietas padi tradisional Indonesia |
| Negara | Indonesia |
| Asal-usul historis utama | Delanggu, Klaten, Jawa Tengah |
| Klasifikasi padi | Tropical japonica / kelompok bulu tradisional |
| Karakteristik butir | Relatif pendek, agak membulat |
| Aroma | Wangi |
| Tekstur nasi | Lembut, basah, dan pulen |
| Posisi pasar | Beras premium/spesialitas lokal |
| Pelepasan varietas resmi | 2003 |
| Turunan modern penting | Rojolele Srinuk dan Rojolele Srinar |
| Identitas utama | Warisan pertanian dan budaya Delanggu |
Publikasi Kementerian Pertanian RI mengenai varietas padi lokal terdaftar mendeskripsikan Rojolele sebagai varietas lokal legendaris asal Klaten yang diakui karena aroma khas dan tekstur pulen-nya.
Asal-usul Nama dan Sejarah Awal
Terdapat beberapa versi cerita rakyat mengenai asal-usul nama “Rojolele”, dan belum ada kesepakatan mutlak mengenai mana yang paling akurat secara historis.
Salah satu kisah yang paling populer mengaitkan nama ini dengan kerajaan Mataram. Konon, seorang raja berkunjung ke daerah Delanggu dan melihat para petani sedang membudidayakan jenis padi lokal. Sang raja memanggil anak-anak laki-laki di sana dengan sebutan “thole”, sebuah istilah kasih sayang dalam bahasa Jawa untuk anak laki-laki. Perpaduan kata rojo (“raja”) dan lele/thole kemudian diyakini menjadi asal mula nama Rojolele.2
Versi lain menyebutkan bahwa penamaan ini berkaitan dengan Pakubuwono II, sementara sumber lain menghubungkannya dengan raja-raja Pakubuwono berikutnya. Karena kisah-kisah ini sebagian besar bersumber dari tradisi lisan, etimologi pastinya lebih tepat dianggap sebagai cerita turun-temurun daripada fakta sejarah yang terverifikasi.
Meskipun asal-usul namanya masih diperdebatkan, keterkaitan antara Rojolele dan Delanggu hampir tidak terbantahkan. Varietas ini menjadi produk pertanian unggulan daerah tersebut dan lama-kelamaan dikenal luas oleh masyarakat sebagai beras Delanggu.3
Sejarah Perkembangan
Era Tradisional
Rojolele merupakan bagian dari tradisi panjang budidaya padi asli di Pulau Jawa. Literatur pertanian mengelompokkan varietas padi tradisional Jawa ke dalam kelompok cere, bulu, dan gundil. Rojolele termasuk dalam galur bulu tradisional dan secara ilmiah diklasifikasikan sebagai padi tropical japonica.4
Budidayanya sangat identik dengan lanskap pertanian subur di sekitar Delanggu, Klaten, menjadikan beras ini bukan sekadar komoditas ekonomi, melainkan juga simbol identitas wilayah.
Secara morfologi, tanaman ini relatif tinggi dengan masa tumbuh yang cukup lama. Karakteristik ini memang memberikan ciri khas tersendiri, namun belakangan menjadi kerugian ketika petani beralih ke varietas modern yang berumur genjah dan berproduksi tinggi.5
Era Revolusi Hijau
Rojolele mengalami tekanan berat selama modernisasi pertanian Indonesia pada paruh kedua abad ke-20.
Program Revolusi Hijau mendorong adopsi varietas unggul baru, pupuk sintetis, pestisida, dan metode budidaya yang berorientasi pada produktivitas massal. Umur panen Rojolele yang panjang serta kerentanannya terhadap rebah membuatnya kalah bersaing dibandingkan varietas-varietas baru tersebut.
Meski demikian, catatan mengenai petani Gatot Surono menunjukkan bahwa sebagian petani lokal tetap berupaya melestarikan Rojolele di tengah gempuran modernisasi. Surono dikenal konsisten mempertahankan varietas tradisional ini dan mempromosikan praktik budidaya yang meminimalkan penggunaan pestisida kimia.6
Perannya sangat vital dalam sejarah kontemporer Rojolele, meskipun ia lebih tepat disebut sebagai pelestari dan penggerak varietas, bukan pencipta aslinya. Padi Rojolele sendiri telah ada jauh sebelum masa hidupnya.
Pengakuan Resmi
Tonggak sejarah penting terjadi pada tahun 2003, ketika Kementerian Pertanian RI secara resmi melepas varietas Rojolele melalui Surat Keputusan Menteri Pertanian No. 126/Kpts/TP.240/2/2003.7
Pengakuan formal ini menegaskan status Rojolele sebagai varietas padi nasional yang sah, bukan lagi sekadar plasma nutfah lokal yang dipelihara secara terbatas.
Varietas resmi ini tetap mempertahankan sejumlah keunggulan yang membuat Rojolele istimewa:
- Aroma yang khas dan wangi;
- Tekstur nasi yang lembut dan pulen;
- Rasa yang enak;
- Ikatan kultural yang kuat dengan Jawa Tengah.
Namun, varietas tradisional ini juga memiliki keterbatasan agronomis, terutama umur panen yang panjang serta kerentanan terhadap penyakit dan rebah. Literatur Kementerian Pertanian mencatat masa tanam sekitar empat bulan dan kerentanan terhadap serangan Pyricularia (blas).8
Peran Gatot Surono
Salah satu tokoh kunci dalam narasi modern Rojolele adalah Gatot Surono, petani asal Delanggu yang mendedikasikan hidupnya untuk menjaga kelestarian varietas tradisional ini.
Kisahnya menjadi sorotan karena sikapnya yang menolak praktik pertanian intensif ala Revolusi Hijau. Ia dilaporkan tetap menanam Rojolele dengan mengandalkan bahan organik seperti pupuk kandang, alih-alih bergantung pada input kimia sintetis.9
Upaya Surono menjamin tersedianya materi genetik varietas tradisional ini di saat banyak petani lain telah beralih ke kultivar lain.
Ia meninggal dunia pada tahun 2019, namun kontribusinya tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari upaya pelestarian Rojolele hingga kini.10
Karakteristik Agronomis
Rojolele tradisional memiliki profil pertanian yang unik.
Sebagai padi tropical japonica, tanaman ini bercirikan postur yang relatif tinggi, perakaran kuat, malai panjang, serta umur panen yang cukup lama. Literatur ilmiah menggambarkan bahwa meskipun memiliki mutu hasil yang sangat baik, varietas tradisional ini juga menghadapi tantangan produksi yang signifikan.11
Keunggulan
Mutu Kuliner
- Nasi beraroma wangi;
- Tekstur lembut dan pulen;
- Rasa yang gurih dan enak;
- Daya tarik sebagai beras premium.
Nilai Budaya
- Identik dengan wilayah Delanggu;
- Merepresentasikan warisan pertanian lokal yang penting;
- Memiliki keterkaitan historis dengan kebudayaan Jawa Tengah.
Nilai Pemuliaan
Karakteristik genetik Rojolele menjadikannya sumber daya berharga bagi program pemuliaan padi. Riset mengidentifikasi varietas tropical-japonica tradisional Indonesia seperti Rojolele sebagai materi genetik potensial untuk pengembangan varietas masa depan.12
Kelemahan
Rojolele tradisional memiliki sejumlah kekurangan untuk pertanian komersial modern:
- Umur panen yang panjang
- Postur tanaman yang tinggi
- Risiko rebah yang besar — batang mudah roboh, terutama dalam kondisi kurang menguntungkan.
- Rentan terhadap penyakit
- Daya saing rendah dibanding varietas unggul baru berproduktivitas tinggi
Keterbatasan inilah yang kemudian mendorong lahirnya varietas-varietas perbaikan Rojolele.13
Rojolele Srinuk
Salah satu perkembangan terpenting dalam sejarah modern Rojolele adalah lahirnya Rojolele Srinuk.
Dimulai sejak tahun 2013, peneliti dari BATAN (Badan Tenaga Nuklir Nasional)—kini BRIN—bekerja sama dengan petani dan pemangku kepentingan di Delanggu untuk memperbaiki varietas tradisional ini. Program tersebut memanfaatkan teknik pemuliaan mutasi dengan iradiasi gamma untuk menghasilkan keragaman genetik baru.14
Tujuan utamanya adalah:
Mempertahankan keunggulan mutu Rojolele sekaligus membuatnya lebih adaptif terhadap sistem pertanian modern.
Varietas hasil perbaikan ini menawarkan sejumlah keuntungan dibanding Rojolele tradisional:
- Umur panen lebih pendek;
- Ketahanan yang lebih baik;
- Lebih tahan rebah;
- Tetap mempertahankan aroma dan rasa yang khas.
Jika varietas konvensional membutuhkan waktu sekitar 155 hari, maka Rojolele Srinuk dikembangkan dengan umur panen hanya sekitar 110–120 hari.15
Rojolele Srinuk resmi dilepas melalui Surat Keputusan Menteri Pertanian No. 481/HK.540/C/10/2019. Varietas ini selanjutnya memperoleh Perlindungan Varietas Tanaman (PVT) dalam sistem perlindungan pertanian Indonesia.16
Rojolele Srinar
Program pemuliaan yang sama juga menghasilkan Rojolele Srinar.
Menurut publikasi varietas Kementerian Pertanian, program iradiasi tersebut menghasilkan sembilan galur harapan, dengan dua di antaranya akhirnya dilepas pada tahun 2019:
- Rojolele Srinuk
- Rojolele Srinar
Srinar dilepas berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian No. 482/HK.540/C/10/2019.17
Penamaan kedua varietas ini mengandung makna simbolis. Kata “Sri” merujuk pada Dewi Sri, sosok yang diasosiasikan dengan padi dan kesuburan dalam budaya Jawa, sedangkan akhiran namanya merepresentasikan proses ilmiah pemuliaan yang dilakukan.
Posisi sebagai Beras Premium
Rojolele menempati posisi unik dalam peta perberasan di Indonesia.
Secara simultan, ia berperan sebagai:
- Varietas padi tradisional;
- Identitas pertanian regional;
- Produk pangan premium;
- Nama dagang yang digunakan berbagai penjual beras; serta
- Sumber materi genetik untuk pemuliaan padi modern.
Posisi premiumnya terutama ditopang oleh karakteristik konsumsinya. Rojolele identik dengan aroma wangi, kelembutan, dan sensasi pulen di mulut, yang membedakannya dari banyak varietas padi高产 biasa.
Platform e-commerce saat ini memperlihatkan betapa luasnya penggunaan nama ini secara komersial. Berbagai marketplace di Indonesia menampilkan banyak produk bermerek Rojolele dalam beragam tingkatan mutu dan ukuran kemasan. Hal ini membuktikan bahwa “Rojolele” telah berevolusi dari sekadar nama varietas lokal menjadi identitas beras yang dikenal konsumen.18
Perlu dicatat bahwa tidak semua kemasan berlabel “Rojolele” berasal dari satu perusahaan sentral. Nama ini pada dasarnya melekat pada varietasnya, yang kemudian dimanfaatkan secara komersial oleh banyak produsen dan penjual berbeda.
Signifikansi Budaya
Keistimewaan Rojolele terletak pada identitasnya yang melampaui fungsi pangan semata.
Bagi Delanggu dan Klaten, beras ini merupakan wujud warisan pertanian, serupa dengan bagaimana komoditas tertentu menjadi simbol suatu daerah.
Sejarah varietas ini menghubungkan mata rantai:
Tradisi Keraton Jawa → Pertanian Delanggu → Petani Tradisional → Upaya Pelestarian → Pemuliaan Ilmiah Modern → Pasar Beras Premium
Hal ini menjadikan Rojolele contoh menarik tentang bagaimana varietas pertanian tradisional mampu bertahan melewati arus modernisasi tanpa harus terjebak dalam bentuk aslinya yang statis.
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah secara eksplisit mempromosikan Rojolele sebagai varietas unggul lokal, sementara Rojolele Srinuk didorong sebagai produk premium yang diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan petani Delanggu.
Aspek Merek Dagang
Penting untuk membedakan antara Rojolele sebagai varietas dan Rojolele sebagai merek dagang.
Rojolele sebagai Varietas
Merujuk pada keragaman genetik/tanaman padi tradisional yang berasal dari kawasan Klaten–Delanggu.
Rojolele sebagai Nama Komersial
Berbagai pelaku usaha perberasan dapat menjual produk dengan nama Rojolele, termasuk dalam berbagai grade dan kemasan. Daftar produk di marketplace saat ini, misalnya, menampilkan deskripsi seperti Rojolele Super Quality, Rojolele Slyp Super Premium, dan Rojolele Delanggu Solo.19
Oleh karena itu, menganggap Rojolele sebagai satu korporasi modern tunggal—seperti perusahaan makanan kemasan—akan menyesatkan.
Deskripsi yang lebih akurat adalah:
Rojolele adalah varietas padi tradisional Indonesia dan identitas pangan regional yang telah berkembang menjadi nama/merek beras yang dikomersialkan secara luas.
Keterkaitan dengan Delanggu
Jika Rojolele memiliki “rumah”, maka tempat itu adalah Delanggu, Klaten, Jawa Tengah.
Reputasi wilayah ini begitu lekat dengan beras tersebut sehingga Rojolele kerap disebut sebagai beras Delanggu. Sejarah varietas, para petaninya, program pemuliaan, hingga komersialisasi kontemporernya semuanya berakar kuat pada kawasan ini.
Kebangkitan modern Rojolele bukan sekadar cerita tentang penciptaan produk beras premium baru, melainkan juga upaya mengembalikan identitas pertanian yang sempat memudar akibat pergeseran preferensi varietas di kalangan petani.
Linimasa
| Periode | Perkembangan |
|---|---|
| Periode tradisional | Rojolele berkembang dan dibudidayakan di kawasan Delanggu |
| Era tradisi Mataram | Sejarah lisan mengaitkan nama ini dengan bangsawan Jawa dan petani lokal |
| Abad ke-20 | Rojolele menjadi identik dengan produksi beras Delanggu |
| Era Revolusi Hijau | Adopsi varietas modern meningkat, menekan keberadaan Rojolele |
| 1960-an–1980-an | Upaya pelestarian oleh petani tradisional membantu menjaga varietas ini |
| 2019 | Gatot Surono, tokoh pelestari penting, meninggal dunia |
| 2003 | Rojolele resmi dilepas sebagai varietas diakui oleh Kementerian Pertanian |
| 2013 | Riset varietas unggul melibatkan BATAN dan petani Delanggu dimulai |
| 2019 | Rojolele Srinuk dan Rojolele Srinar resmi dilepas |
| 2020-an | Rojolele Srinuk semakin gencar dipromosikan sebagai beras premium daerah |
| 2026 | Rojolele tetap tersedia secara komersial melalui berbagai penjual beras dan marketplace daring |
Linimasa ini memiliki satu fitur yang sedikit non-linear: pengakuan resmi tahun 2003 mendahului program perbaikan 2013–2019, karena program后者 dimaksudkan untuk menyempurnakan varietas tradisional yang sudah diakui tersebut.
Persepsi Masyarakat
Bagi konsumen Indonesia, khususnya di Jawa, Rojolele umumnya diasosiasikan dengan konsep “beras premium yang pulen dan wangi”.
Daya tariknya dapat dirangkum dalam tiga dimensi:
🌾 Pertanian
Varietas padi tropical-japonica tradisional dengan karakteristik genetik dan agronomis yang khas.
🍚 Kuliner
Wangi, lembut, dan pulen, menjadikannya pilihan menarik untuk konsumsi harian maupun segmen premium.
🏛️ Budaya
Simbol warisan pertanian Delanggu dan Klaten, dengan narasi yang terhubung erat pada sejarah Jawa Tengah.
Relevansi Masa Kini
Kepentingan modern Rojolele terletak pada kemampuannya bertahan melewati berbagai transformasi.
Berawal sebagai padi lokal tradisional, menghadapi persaingan varietas unggul baru, diselamatkan oleh petani individu, mendapat pengakuan pemerintah, menjadi objek pemuliaan ilmiah, hingga kembali ke pasar dalam bentuk perbaikan seperti Rojolele Srinuk.
Hal ini menjadikan Rojolele lebih dari sekadar produk beras. Ia merupakan contoh nyata perpaduan warisan pertanian Indonesia dengan pemuliaan tanaman modern dan pencitraan merek komersial.
Kisah ini juga menegaskan pentingnya biodiversitas pertanian: varietas tradisional yang mungkin tampak tidak efisien dibandingkan tanaman modern ternyata menyimpan sifat-sifat berharga terkait rasa, aroma, adaptabilitas, dan potensi pemuliaan masa depan. Masuknya Rojolele dalam daftar plasma nutfah tropical-japonika Indonesia yang bernilai tinggi memperkuat argumen tersebut.
Lihat Juga
- Delanggu — pusat produksi historis Rojolele
- Kabupaten Klaten — wilayah luas yang diasosiasikan dengan varietas ini
- Rojolele Srinuk — varietas perbaikan Rojolele
- Rojolele Srinar — varietas perbaikan Rojolele lainnya
- BATAN — lembaga Indonesia yang terlibat dalam pengembangan Rojolele unggul
- Dewi Sri — figur mitologi pertanian Jawa/Sunda yang berkaitan dengan padi
- Varietas padi di Indonesia — konteks lebih luas mengenai biodiversitas padi lokal
Ringkasan
Rojolele adalah varietas padi historis asal Delanggu, Klaten, yang termasyhur karena aroma wangi dan tekstur pulennya; kelangsungannya dari pertanian tradisional, melewati era Revolusi Hijau, hingga melahirkan varietas modern seperti Rojolele Srinuk, menjadikannya salah satu contoh warisan pertanian dan kuliner paling khas di Jawa Tengah.
References
- 5 Beras Lokal Populer, Ada Pandan Wangi Hingga Rojolele
- Melacak Sejarah Rojolele, Beras Unggulan Asal Delanggu Klaten
- Rojolele: A Premium Aromatic Rice Variety in Indonesia
- Kisah Padi Rojolele, Sukses lantaran Lolos dari Pestisida
- Rojolele Terlengkap 👍🏻 – Harga Murah Juli 2026 | Blibli
- Gubernur Apresiasi Semangat Warga Delanggu Kembali Tanam Rojolele
- Beras Rojolele ✅ Juli 2026 – Official Store
- Rojolele Delanggu Original ✅ Harga & Pilihan Terbaru Juli 2026 | Blibli
- 10 Rekomendasi Beras Terbaik [Pulen, Merk Premium] (Terbaru Tahun 2026) | mybest
- Beras Rojolele: Keistimewaan, Asal Usul, dan Definisinya
- KSP Principium FH UNS Gelar Sosialisasi Program Penguatan Kapasitas Ormawa di Desa Delanggu Klaten terkait Inisiasi Omah Rojolele | Krajan
- Rojolele, Beras Unggulan Asal Delanggu yang Sudah Ada Sejak Tahun 1700-an | Inibaru
- (PDF) Rojolele: A Premium Aromatic Rice Variety in Indonesia
- Perjalanan Bangkitnya Beras Rojolele Delanggu Klaten
- Kisah Karyawan Resign Demi Bertani Bangkitkan Beras Rojolele Delanggu Klaten
- (PDF) Rojolele: a Premium Aromatic Rice Variety in Indonesia
- MENGEMBALIKAN BERAS ROJOLELE KE RUMAHNYA – Saluran Sebelas
- Jual Rojolele Super Quality Di Seller Toko Beras Firdaus – Cipete Utara, Kota Jakarta Selatan | Blibli
- Padi Rojolele – Website Resmi Jogja Benih D.I. Yogyakarta





