I Indonesia Brand Wiki

Tentang DEUS EX MACHINA

Pengenalan Merek

DEUS EX MACHINA, atau yang lebih akrab disapa Deus, merupakan merek gaya hidup dan wadah budaya asal Australia yang berporos pada sepeda motor, selancar, papan luncur, seni, musik, fesyen, serta keahlian kriya. Alih-alih memosisikan diri semata sebagai perusahaan pakaian atau produsen sepeda motor, Deus hadir sebagai komunitas dan filosofi yang menempatkan kreativitas, individualitas, dan kenikmatan bermesin sebagai inti geraknya.1

Merek ini lahir di Sydney, Australia, pada tahun 2006 atas prakarsa Dare Jennings dan Carby Tuckwell. Identitas awalnya sangat dipengaruhi oleh budaya selancar Australia serta kancah modifikasi sepeda motor Jepang yang sedang berkembang kala itu, khususnya tren perombakan minimalis pada motor-motor seperti Yamaha SR400.2

Kini, Deus telah bertransformasi menjadi merek gaya hidup berskala internasional dengan cakupan produk dan layanan yang meliputi pakaian, sepeda motor kustom, papan selancar, sepeda, aksesori, hospitalitas, seni, acara, hingga ruang ritel. Toko-tokonya yang khas—dikenal dengan sebutan “Temples of Enthusiasm”—mengintegrasikan fungsi bengkel, ruang pamer, kafe, galeri, restoran, dan ruang komunitas dalam satu atap.3

Nama dan Makna

Deus Ex Machina adalah frasa Latin yang berarti “dewa dari mesin” atau “dewa yang muncul dari mesin.”

Ungkapan ini berasal dari teater Yunani dan Romawi kuno, ketika seorang dewa atau tokoh supernatural diturunkan ke panggung menggunakan perangkat mekanis untuk menyelesaikan konflik yang tampak mustahil.

Deus mengadopsi frasa tersebut karena mampu merepresentasikan ketertarikannya terhadap mesin sebagai objek kreativitas, bukan sekadar alat transportasi. Dalam percakapan sehari-hari, nama ini dipendekkan menjadi “Deus”, yang dilafalkan kurang lebih sebagai “day-us”. Identitas visual merek ini kerap memainkan hubungan antara mesin, seni, humor, dan kreativitas manusia.3

Oleh karena itu, nama ini melampaui sekadar rujukan pada sepeda motor; ia mencerminkan gagasan luas bahwa mesin dapat menjadi sarana ekspresi diri.

Pendirian dan Asal Usul

Dare Jennings

Kisah Deus tidak dapat dilepaskan dari sosok Dare Jennings, wirausahawan Australia yang memiliki keterkaitan erat dengan dunia selancar, musik, desain grafis, dan budaya anak muda.

Sebelum mendirikan Deus, Jennings dikenal luas sebagai salah satu pendiri Mambo, merek fesyen selancar dan jalanan berpengaruh yang berdiri pada 1984. Mambo meraih popularitas berkat kemampuannya memadukan budaya selancar dengan grafis yang berani, seni, musik, dan humor.

Setelah menjual Mambo, Jennings beralih pada minat lamanya: sepeda motor. Ia telah mengendarai motor sejak muda dan menaruh perhatian khusus pada budaya yang mengelilingi motor-motor Jepang klasik.4

Carby Tuckwell

Carby Tuckwell menjadi kekuatan kreatif utama lainnya di balik Deus. Dengan latar belakang desain grafis dan komunikasi visual, Tuckwell bertanggung jawab atas sebagian besar identitas visual yang membuat Deus mudah dikenali.

Koleksi Powerhouse di Sydney mendokumentasikan peran Tuckwell dalam pengembangan logo, tipografi, poster, grafis, kaos, katalog, serta bahasa visual merek secara menyeluruh.5

Bersama-sama, Jennings dan Tuckwell menggabungkan berbagai elemen:

  • Budaya sepeda motor
  • Budaya selancar Australia
  • Desain grafis
  • Fesyen
  • Estetika industrial
  • Musik
  • Seni
  • Budaya kafe
  • Kriya swakriya (DIY)

Perpaduan inilah yang kemudian menjadi fondasi Deus.

Pengaruh Sepeda Motor Jepang

Salah satu pengaruh terpenting bagi Deus adalah kancah modifikasi sepeda motor di Tokyo.

Jennings yang kerap bepergian ke Jepang terpikat oleh para pengendara muda setempat yang merombak motor-motor biasa yang relatif terjangkau menjadi mesin kustom berkarakter kuat.

Di antara motor-motor yang menarik perhatiannya adalah Yamaha SR400 dan Yamaha TW200. Alih-alih mengejar performa balap, motor-motor ini dibongkar, dimodifikasi, dibangun ulang, dan diberi sentuhan estetika yang sangat personal.6

Jennings membawa gagasan ini kembali ke Australia.

Hasilnya adalah visi baru tentang budaya sepeda motor:

Seseorang tidak harus membeli motor eksotis yang mahal. Kita bisa mengambil mesin biasa dan menjadikannya milik kita sendiri.

Prinsip ini menjadi salah satu pilar utama Deus.

Sepeda motor dipandang secara serentak sebagai:

mesin + kriya + fesyen + identitas + gaya hidup.

Kelahiran Konsep Deus

Konsep awal Deus sebenarnya cukup sederhana:

sepeda motor kustom bagi mereka yang ingin menikmati budaya di sekitarnya.

Namun, Deus dengan cepat berkembang melampaui urusan sepeda motor semata.

Perusahaan menyadari bahwa orang-orang yang menyukai sepeda motor mungkin juga menikmati:

  • Selancar
  • Papan luncur
  • Bersepeda
  • Fotografi
  • Musik
  • Fesyen
  • Seni
  • Perjalanan
  • Kuliner
  • Petualangan alam terbuka

Alih-alih memperlakukan semua itu sebagai subkultur yang terpisah-pisah, Deus berupaya menyatukannya di bawah satu payung.

Hal ini terangkum dalam salah satu gagasan sentralnya:

“It’s All the Same Juice”

Bagi Deus, budaya sepeda motor, budaya selancar, budaya papan luncur, dan bentuk rekreasi kreatif lainnya bukanlah dunia yang berbeda. Semuanya merupakan ekspresi berbeda dari hasrat yang sama akan kebebasan, kreativitas, pergerakan, dan kesenangan.7

Sydney: Deus yang Pertama

Rumah pertama Deus berada di Camperdown, Sydney, tempat perusahaan mengembangkan ruang multifungsi yang kini legendaris.

Ruang ini sengaja tidak dirancang sebagai dealer sepeda motor konvensional.

Sebaliknya, ruang tersebut memadukan berbagai fungsi:

  • Bengkel sepeda motor
  • Ruang pamer sepeda motor
  • Toko pakaian
  • Kafe
  • Ruang seni
  • Tempat berkumpul komunitas
  • Studio kreatif

Konsep ini menjadi inti dari model bisnis Deus.

Powerhouse Museum menggambarkan gerai awal Deus sebagai outlet sepeda motor kustom bernuansa Jepang sekaligus emporium ritel yang menggabungkan fungsi penjualan, kafe, galeri, dan budaya.8

Langkah ini membantu menetapkan bagian fundamental dari identitas Deus:

Deus tidak sekadar menjual gaya hidup—merek ini menciptakan ruang fisik tempat gaya hidup tersebut dapat dijalani.

“Temple of Enthusiasm”

Mungkin konsep Deus yang paling mudah dikenali adalah “Temple of Enthusiasm.”

Sebuah Temple pada dasarnya adalah manifestasi fisik berskala besar dari merek ini.

Tergantung lokasinya, sebuah Temple dapat mencakup:

  • Ritel
  • Bengkel sepeda motor
  • Bengkel papan selancar
  • Kafe
  • Restoran
  • Bar
  • Galeri
  • Studio
  • Ruang acara
  • Area luar ruangan

Tujuannya adalah menciptakan pusat budaya, bukan toko ritel biasa.

Gagasan ini menjadi sangat penting di Bali, tempat Deus mendirikan lokasi utama di Canggu. Situs web Deus Indonesia menggambarkan Temple Canggu sebagai perpaduan ruang pamer, kafe, bengkel, area papan selancar, dan galeri seni.9

Pendekatan ini kemudian menjadi bagian integral dari strategi ekspansi internasional merek.

Bali dan Ekspansi Global

Ekspansi Deus ke luar Australia menunjukkan karakteristik penting merek ini: tidak ada upaya untuk menyeragamkan setiap lokasi.

Sebaliknya, Deus mengadaptasi budayanya dengan lingkungan sekitar.

Jennings menjelaskan bahwa merek ini bisa saja berfokus pada sepeda motor di Australia, sementara di Bali secara alami lebih identik dengan papan selancar dan sepeda.10

Fleksibilitas ini membantu Deus berekspansi secara internasional.

Kehadiran internasionalnya mencakup pusat-pusat budaya utama seperti:

  • Sydney
  • Bali
  • Los Angeles
  • Milan
  • Tokyo
  • Dan berbagai lokasi lain di seluruh dunia

Merek ini menggambarkan ekspansinya sebagai upaya membawa gagasan Deus dan membiarkannya terekspresikan secara berbeda di tiap lingkungan.11

Deus dan Sepeda Motor

Sepeda motor tetap menjadi jantung identitas Deus.

Namun, pendekatan Deus terhadap sepeda motor berbeda dari pabrikan tradisional.

Secara umum, Deus menekankan pada:

Modifikasi di atas produksi massal

Motor-motor Deus sering kali berbasis pada sepeda motor yang sudah ada, lalu dimodifikasi secara ekstensif.

Karakter di atas performa murni

Tujuannya bukan menghasilkan motor tercepat. Penekanannya terletak pada kepribadian, keahlian kriya, proporsi, estetika, dan pengalaman berkendara.

Platform klasik

Sepeda motor klasik yang relatif sederhana secara historis sangat menarik bagi Deus karena menyediakan landasan yang baik untuk kustomisasi.

Sepeda motor sebagai objek budaya

Bagi Deus, sepeda motor dapat berfungsi secara serentak sebagai:

  • Alat transportasi
  • Karya seni mekanis
  • Pernyataan fesyen
  • Proyek pribadi
  • Objek sosial

Filosofi ini turut mempopulerkan gaya hidup sepeda motor kustom modern yang semakin berpengaruh selama dekade 2010-an.

Estetika Sepeda Motor Deus

Estetika khas sepeda motor Deus dapat digambarkan sebagai campuran dari:

Budaya selancar Australia + minimalisme Jepang + balap vintage + pakaian kerja + desain industrial.

Ciri visual yang umum meliputi:

  • Bodi yang disederhanakan
  • Komponen mekanis yang terekspos
  • Jok minimalis
  • Tangki bahan bakar kustom
  • Ban bertapak kasar atau semi-kasar
  • Warna bernuansa vintage
  • Detail cat tangan
  • Jok datar atau bergaya tracker
  • Kokpit yang dilucuti
  • Proporsi sepeda motor klasik

Meski demikian, Deus tidak memiliki formula desain yang kaku.

Hal ini penting.

Sepeda motor Deus bisa saja berbentuk:

  • Café racer
  • Scrambler
  • Tracker
  • Chopper
  • Desert racer
  • Beach cruiser
  • Motor jalan raya vintage

Benang merahnya adalah interpretasi individu, bukan siluet yang diseragamkan.

Dari Sepeda Motor Menuju Fesyen

Meskipun sepeda motor menjadi pusat perhatian, pakaian pada akhirnya menjadi salah satu produk Deus yang paling terlihat.

Pakaian ini mencerminkan perpaduan budaya yang sama dengan sepeda motornya.

Kategori khas Deus meliputi:

  • Kaos bergambar
  • Sweter
  • Jaket
  • Pakaian kerja
  • Topi
  • Kemeja
  • Jersey
  • Celana
  • Aksesori

Grafis merek ini sering kali mengambil inspirasi dari:

  • Budaya sepeda motor vintage
  • Budaya selancar
  • Balap
  • Americana
  • Grafis Jepang
  • Citra Australia
  • Tipografi
  • Iklan retro

Oleh karena itu, Deus menempati posisi unik di persimpangan pakaian sepeda motor, pakaian selancar, busana jalanan, dan fesyen gaya hidup.

Pakaiannya tidak mengharuskan pemakainya menjadi penggemar sepeda motor.

Itu memang bagian dari konsep aslinya: budayanya bisa lebih luas daripada mesin itu sendiri.

Budaya Selancar

Selancar sama pentingnya dengan sepeda motor dalam DNA Deus.

Ini sebagian besar merupakan konsekuensi dari latar belakang Dare Jennings.

Alih-alih memperlakukan sepeda motor dan selancar sebagai gaya hidup yang tak berkaitan, Deus dengan sengaja memadukannya.

Hal ini terlihat jelas di lokasi-lokasi seperti Bali, tempat sepeda motor, selancar, perjalanan tropis, kafe, musik, dan fesyen bertemu secara alami.

Deus dengan demikian menempati wilayah budaya yang khas:

berkelana mencari ombak di pagi hari → berkendara motor di sore hari → nongkrong di kafe/bar → musik → seni → komunitas.

Orientasi gaya hidup inilah yang memungkinkan merek ini menjangkau audiens melampaui penggemar sepeda motor tradisional.

Papan Luncur, Bersepeda, Seni, dan Musik

Deus juga secara sadar merangkul bentuk-bentuk budaya kreatif dan rekreasi lainnya.

Filosofinya merujuk pada bermotor, berselancar, bermain papan luncur, dan kegiatan lainnya sebagai bagian dari budaya individualisme yang lebih luas.12

Merek ini akibatnya membangun koneksi dengan:

  • Seniman
  • Fotografer
  • Musisi
  • Pemain papan luncur
  • Pesepeda
  • Peselancar
  • Pembangun sepeda motor
  • Desainer
  • Pembuat film

Ini menciptakan ekosistem tempat pakaian, sepeda motor, fotografi, musik, kuliner, dan arsitektur saling memperkuat.

Dalam pengertian itu, Deus beroperasi lebih mirip platform gaya hidup/budaya daripada label fesyen konvensional.

Identitas Visual

Identitas visual merupakan salah satu aset terkuat Deus.

Grafisnya kerap menampilkan:

  • Tipografi tebal
  • Tulisan tangan
  • Ilustrasi bernuansa vintage
  • Citra sepeda motor
  • Referensi selancar
  • Motif balap
  • Slogan jenaka
  • Lencana dan emblem
  • Grafis yang sengaja dibuat tidak sempurna

Estetikanya sering kali terasa seperti perpaduan antara:

bengkel sepeda motor era 1970-an + toko selancar Australia + garasi Jepang + poster balap vintage Amerika.

Bahasa visual ini dibentuk secara signifikan oleh Carby Tuckwell dan menjadi fondasi keterkenalan Deus. Powerhouse Museum secara khusus memberikan kredit kepada Tuckwell atas penciptaan elemen-elemen utama identitas merek ini.5

“Doing Is More Fun Than Owning”

Salah satu gagasan terpenting di balik Deus adalah perbedaan antara partisipasi dan konsumsi.

Merek ini lahir dengan pemikiran bahwa:

melakukan sesuatu jauh lebih menyenangkan daripada sekadar memilikinya.

Artinya, Deus kurang tertarik pada sepeda motor sebagai barang mewah dan lebih tertarik pada pengalaman yang mengelilinginya.

Sebagai contoh:

Alih-alih:
“Saya punya motor kustom.”

Filosofi Deus lebih dekat pada:
“Saya membangunnya, mengendarainya, bepergian dengannya, bertemu orang-orang melaluinya, dan menciptakan sesuatu bersamanya.”

Mentalitas swakriya (DIY) ini memberikan Deus koneksi kuat dengan budaya pembuat (maker culture) dan kultur tandingan.

“There Is No Right Way”

Gagasan sentral lainnya adalah bahwa tidak ada satu cara yang benar untuk mengekspresikan individualitas.

Deus secara eksplisit menolak batasan kaku antar-subkultur.

Seseorang tidak harus menjadi:

  • Pengendara motor semata
  • Peselancar semata
  • Pemain papan luncur semata
  • Pecinta fesyen semata

Kita bisa menjadi semuanya sekaligus.

Filosofi perusahaan menggambarkan hal ini sebagai penolakan terhadap gagasan bahwa minat individu perlu dipisahkan ke dalam kategori yang ketat.13

Keterbukaan ini menjadi bagian penting dari daya tarik internasional merek.

Deus Sebagai Merek Gaya Hidup

Penting untuk membedakan Deus dari perusahaan pakaian konvensional.

Perusahaan fesyen konvensional mungkin beroperasi kira-kira seperti ini:

desain → manufaktur → ritel → konsumen

Model Deus lebih mendekati:

budaya → komunitas → produk → ruang → pengalaman → budaya

Produk-produknya pada dasarnya adalah manifestasi fisik dari pandangan dunia yang lebih besar.

Itulah sebabnya perusahaan menggambarkan dirinya sebagai “selangkah lebih besar dari sekadar merek” dan berulang kali mengkarakterisasikan Deus sebagai budaya atau filosofi, bukan sekadar perusahaan produk.14

Filosofi Merek

Filosofi inti Deus dapat dirangkum melalui beberapa konsep:

Prinsip Makna
Kreativitas Mencipta dan memodifikasi alih-alih sekadar mengonsumsi
Individualitas Tidak ada satu cara yang benar untuk mengekspresikan diri
Keahlian Kriya Menghargai benda buatan tangan dan hasil modifikasi
Petualangan Sepeda motor, selancar, perjalanan, dan pengalaman alam terbuka
Inklusivitas Berbagai subkultur dapat berdampingan
Autentisitas Mengutamakan antusiasme sejati di atas status yang dibuat-buat
Komunitas Membangun ruang tempat orang dapat bertemu dan berpartisipasi
Kesenangan Menikmati mesin dan budaya di sekitarnya

Filosofi resmi Deus pada intinya bermuara pada inklusivitas, autentisitas, antusiasme, dan kreativitas.15

Dampak Budaya

Deus menjadi berpengaruh karena muncul pada momen penting dalam budaya sepeda motor.

Selama sebagian besar akhir abad ke-20 dan awal 2000-an, budaya sepeda motor sering kali terkotak-kotak ke dalam kategori khusus:

  • Sport bike
  • Cruiser
  • Motocross
  • Touring
  • Balap
  • Sepeda motor klasik

Deus membantu mempopulerkan kemungkinan lain:

Sepeda motor sebagai objek gaya hidup dan desain.

Perpaduannya antara sepeda motor + pakaian + kafe + seni + budaya selancar menjadi berpengaruh dalam kebangkitan kancah sepeda motor kustom kontemporer.

Bahkan pabrikan sepeda motor mulai lebih memperhatikan sisi budaya dan gaya hidup dari aktivitas bermotor.

Yamaha, misalnya, telah membahas pengaruh Deus terhadap kembalinya minat pada sepeda motor bergaya retro yang lebih sederhana, dan secara spesifik menghubungkan karya Deus dengan model-model seperti XSR700 dan XSR900.16

Hubungan dengan Yamaha

Yamaha memegang peranan khusus dalam kisah Deus.

Yamaha SR400 adalah salah satu sepeda motor yang membantu membentuk estetika kustom awal perusahaan.

Jennings mulai tertarik pada SR400 setelah melihat pengendara Jepang memodifikasinya di Tokyo. Deus kemudian mengakuisisi unit bekas SR400 dan TW200 sebagai platform untuk proyek bangunannya sendiri.16

Hubungan ini kemudian meluas, dengan Yamaha mendukung Deus dan berkolaborasi dalam kancah budaya sepeda motor kustom yang lebih luas.

Hal ini menjadikan Yamaha SR400 bisa dibilang sebagai salah satu sepeda motor terpenting dalam perkembangan sejarah Deus.

Deus dan Hospitalitas

Aspek lain yang tidak lazim dari perusahaan ini adalah integrasi hospitalitas ke dalam ritel.

Sebuah lokasi Deus bisa sekaligus berfungsi sebagai:

toko + kafe + restoran + bengkel + galeri + venue acara.

Ini mengubah tindakan mengunjungi toko menjadi sebuah pengalaman budaya.

Alih-alih sekadar bertanya:

“Apa yang Anda jual?”

Lingkungan Deus bertanya:

“Dunia seperti apa yang sedang Anda ciptakan?”

Pendekatan ini menjadi semakin berpengaruh dalam lanskap ritel gaya hidup kontemporer.

Deus dan Bali

Kisah di Bali patut mendapat perhatian khusus karena menunjukkan seberapa sukses konsep Deus beradaptasi dengan suatu lokasi.

Canggu Temple of Enthusiasm mengintegrasikan sepeda motor, papan selancar, kuliner, seni, ritel, dan ruang sosial.17

Di Bali, Deus terasa kurang seperti perusahaan sepeda motor tradisional dan lebih menyerupai institusi gaya hidup selancar-dan-motor.

Perbedaan ini penting.

Filosofi merek ini bukanlah:

“Semua orang harus menjadi pengendara motor.”

Melainkan lebih dekat pada:

“Temukan sesuatu yang Anda sukai, jadikan itu milik Anda sendiri, dan bagikan pengalamannya dengan orang lain.”

Identitas Internasional

Salah satu kekuatan Deus adalah bahwa tampilannya tidak harus seragam di setiap tempat.

Versi Australia cenderung menekankan:

sepeda motor + selancar + budaya Australia

Bali:

selancar + sepeda motor + gaya hidup tropis

Jepang:

sepeda motor + keahlian kriya Jepang + fesyen

Milan:

sepeda motor + desain Italia + fesyen

Los Angeles:

sepeda motor + budaya jalanan Amerika + industri kreatif

Filosofi dasarnya tetap dapat dikenali sementara ekspresinya berubah menyesuaikan budaya lokal. Kemampuan adaptasi ini secara eksplisit merupakan bagian dari visi Jennings untuk merek ini.18

Pengembangan Bisnis

Meskipun Deus bermula sebagai proyek sepeda motor dan gaya hidup yang relatif ceruk, merek ini berkembang menjadi operasi komersial internasional.

Ekspansinya mencakup:

  • Ritel internasional
  • Pakaian
  • Sepeda motor kustom
  • Lisensi
  • Kolaborasi
  • Hospitalitas
  • Acara
  • Aksesori
  • Proyek budaya

Pengembangan merek ini juga menarik investor dan mitra internasional seiring ekspansinya ke luar Australia. Catatan kontemporer menyebutkan pendirian operasi Milan serta keterlibatan Federico Minoli, yang sebelumnya terkait dengan Ducati, dalam pengembangan internasional perusahaan.16

Poin pentingnya adalah Deus berhasil mempertahankan identitasnya sembari menskalakan konsep yang awalnya tampak seperti toko sepeda motor kecil di Australia.

Deus di Era 2020-an

Menjelang pertengahan 2020-an, Deus telah beroperasi selama kurang lebih dua dekade.

Dalam sebuah pesan tahun 2025, salah satu pendiri sekaligus direktur kreatif Carby Tuckwell merefleksikan pencapaian merek ini memasuki dekade ketiganya, dengan menekankan karakternya yang tetap “sederhana namun tangguh”, kreativitasnya, ketidaksempurnaannya, serta kualitas manusiawinya.18

Hal ini signifikan karena Deus berhasil bertahan dari tantangan yang sering dihadapi banyak merek gaya hidup:

berekskpansi secara internasional tanpa sepenuhnya kehilangan karakter subkultur aslinya.

Identitas kontemporernya masih berputar pada kombinasi dasar yang sama:

sepeda motor + selancar + seni + fesyen + kreativitas + komunitas + petualangan.

Apa yang Membuat Deus Berbeda?

Ada banyak merek pakaian sepeda motor.

Ada banyak merek selancar.

Ada banyak merek busana jalanan.

Ada banyak kafe.

Ada banyak bengkel sepeda motor.

Ada banyak merek gaya hidup.

Deus tidak biasa karena mencoba menggabungkan semuanya.

Produk sejatinya bukanlah sekadar kaos atau sepeda motor.

Produk sejatinya adalah pandangan dunia.

Kaos Deus mengomunikasikan:

“Saya mengidentifikasi diri dengan budaya ini.”

Sepeda motor Deus mengomunikasikan:

“Saya menyukai mesin, tetapi saya ingin menjadikannya personal.”

Deus Temple mengomunikasikan:

“Ini adalah tempat orang-orang dengan minat serupa dapat bertemu.”

Dan merek secara keseluruhan mengomunikasikan:

“Lakukan sesuatu. Buat sesuatu. Kendarai sesuatu. Pergilah ke suatu tempat.”

DNA Merek

Jika Deus diurai hingga ke DNA esensialnya, strukturnya terlihat seperti berikut:

Asal

🇦🇺 Sydney, Australia

Didirikan

2006, dengan akar pada pendirian operasi Sydney asli di akhir 2005.19

Pendiri

Dare Jennings dan Carby Tuckwell.20

Obsesi Awal

Sepeda motor kustom

Pengaruh Utama

Budaya sepeda motor Jepang, budaya selancar Australia, balap vintage, desain grafis, seni, dan musik

Produk Inti

Sepeda motor, pakaian, aksesori, papan selancar, dan barang gaya hidup

Konsep Fisik

Temples of Enthusiasm

Filosofi Inti

Kreativitas, individualitas, autentisitas, inklusivitas, dan antusiasme

Slogan/Konsep Kunci

“It’s All the Same Juice.”

Posisi Merek

Bukan sekadar perusahaan sepeda motor atau label pakaian, melainkan gaya hidup global dan budaya kreatif.21

Kesimpulan

DEUS EX MACHINA adalah budaya sepeda motor dan gaya hidup asal Australia yang mentransformasi gagasan sepeda motor kustom menjadi dunia yang lebih luas, mencakup selancar, papan luncur, seni, fesyen, kuliner, musik, keahlian kriya, perjalanan, dan individualisme kreatif.

Atau, lebih sederhananya:

Deus bukan tentang apa yang Anda miliki, melainkan tentang apa yang Anda lakukan dengannya.

Itulah mungkin cara terbaik untuk memahami mengapa perusahaan yang bermula dari sepeda motor kustom dapat menjadi merek gaya hidup yang diakui secara internasional.

References

Profil ini disusun dengan bantuan AI dan telah ditinjau sebelum dipublikasikan. Cara kami menggunakan AI

Brand terkait