I Indonesia Brand Wiki

Tentang GUNUNG AGUNG

GUNUNG AGUNG, yang lebih dikenal dengan nama Toko Buku GUNUNG AGUNG, merupakan salah satu merek toko buku tertua dan paling bersejarah di Indonesia. Didirikan di Jakarta pada tahun 1953 oleh Tjio Wie Tay, yang kemudian lebih dikenal sebagai Haji Masagung, perusahaan ini berkembang dari usaha buku kecil di kawasan Kwitang menjadi grup bisnis nasional yang mencakup ritel, penerbitan, percetakan, impor, dan distribusi. GUNUNG AGUNG memainkan peran penting dalam perkembangan perdagangan buku modern di Indonesia serta pertumbuhan Kwitang sebagai pusat buku dan literasi.1

Meskipun jaringan ritelnya akhirnya menghentikan operasi, GUNUNG AGUNG tetap menjadi nama yang sangat penting dalam sejarah penerbitan dan penjualan buku di Indonesia.

Ikhtisar

Bidang Informasi
Nama merek Toko GUNUNG AGUNG / GUNUNG AGUNG
Industri Penjualan buku, penerbitan, percetakan, distribusi, ritel
Didirikan 1953
Pendiri Tjio Wie Tay (Haji Masagung)
Asal Kwitang, Jakarta, Indonesia
Induk/operator era ritel terakhir PT GA Tiga Belas
Kantor pusat / pusat bersejarah Kwitang, Central Jakarta
Produk utama Buku, surat kabar, majalah, alat tulis, perlengkapan sekolah, dan barang terkait
Jangkauan puncak Puluhan toko di kota-kota besar Indonesia
Pameran buku besar pertama 1953
Keterlibatan pameran buku nasional 1954
Penutupan ritel 2023
Status jaringan ritel bersejarah Tutup

Sejarah

Awal Mula

Sejarah GUNUNG AGUNG bermula pada masa-masa sekitar kemerdekaan Indonesia. Tjio Wie Tay, yang kemudian menggunakan nama Haji Masagung, terlibat dalam kemitraan dagang bernama Thay San Kongsie. Usaha ini awalnya menjual berbagai barang termasuk rokok, namun seiring meningkatnya permintaan bahan bacaan, fokus bisnisnya beralih secara bertahap ke buku, surat kabar, dan majalah.2

Pada awal 1950-an, Tjio Wie Tay mengembangkan gagasan untuk membangun bisnis penjualan dan penerbitan buku yang lebih besar. Pada tahun 1951, ia mengakuisisi sebuah bangunan di Jalan Kwitang No. 13, Jakarta, yang kemudian identik dengan operasi buku awalnya.3

Pada tahun 1953, setelah pemisahan dari kemitraan semula, Tjio Wie Tay mendirikan Firma GUNUNG AGUNG, yang menjadi fondasi bagi bisnis GUNUNG AGUNG selanjutnya.4

Asal Usul Nama

Nama “GUNUNG AGUNG” berasal dari makna nama Tiongkok sang pendiri. Thay San dapat diartikan sebagai “gunung besar”, yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi GUNUNG AGUNG. Nama ini juga bertepatan dengan Gunung Agung, gunung berapi terkenal di Bali.5

Terobosan 1953–1954

Salah satu aspek terpenting dalam sejarah awal GUNUNG AGUNG adalah penekanannya pada pameran buku, bukan sekadar beroperasi sebagai toko buku konvensional.

Pada September 1953, perusahaan menyelenggarakan pameran buku besar di Jakarta. Catatan sejarah sezaman menggambarkan acara tersebut sebagai peristiwa penting bagi industri buku Indonesia yang masih muda, di mana GUNUNG AGUNG menampilkan ribuan judul buku meskipun beroperasi dengan modal yang relatif terbatas.6

Tahun berikutnya, GUNUNG AGUNG turut membantu penyelenggaraan Pekan Buku Indonesia 1954, sebuah pameran buku yang bahkan lebih besar. Perusahaan juga terlibat dalam pameran buku di luar Jakarta, termasuk sebuah acara di Medan yang berkaitan dengan Kongres Bahasa tahun 1954.

Strategi yang berorientasi pada pameran ini membantu menempatkan GUNUNG AGUNG bukan hanya sebagai peritel, melainkan sebagai institusi yang berperan dalam mempromosikan minat baca, penerbitan, dan akses terhadap buku.

Perkembangan Kwitang

GUNUNG AGUNG menjadi sangat lekat dengan Kwitang, sebuah kawasan di Jakarta Pusat yang akhirnya terkenal dengan toko-toko dan penjual bukunya.

Ketika bisnis ini pertama kali berdiri di sana pada awal 1950-an, Kwitang masih tergolong sepi. Pertumbuhan GUNUNG AGUNG diikuti oleh kemunculan vendor dan kios buku lainnya, yang berkontribusi pada perkembangan kawasan tersebut sebagai distrik perdagangan buku.7

Selama beberapa dekade berikutnya, Kwitang menjadi salah satu tujuan paling terkenal di Jakarta untuk mencari buku, khususnya buku murah dan bekas.

Oleh karena itu, kehadiran GUNUNG AGUNG menjadi bagian dari identitas fisik dan budaya Kwitang. Penelitian akademis yang diterbitkan pada tahun 2024 menyebutkan toko buku ini sebagai salah satu institusi yang berperan signifikan dalam identitas literer kawasan tersebut dan menyebutnya sebagai pelopor toko buku modern di Indonesia.

Toko Unggulan Kwitang

GUNUNG AGUNG akhirnya berekspansi melampaui lokasi aslinya.

Sebuah bangunan besar GUNUNG AGUNG di Jalan Kwitang No. 6 menjadi tonggak penting. Bangunan ini diresmikan oleh Presiden Sukarno pada tahun 1963, mencerminkan ketenaran yang telah dicapai toko buku tersebut pada masa itu.8

Toko Kwitang kemudian menjadi jantung simbolis dari merek ini.

Bagi generasi penduduk Jakarta, berkunjung ke GUNUNG AGUNG di Kwitang identik dengan pembelian:

  • Buku pelajaran sekolah
  • Novel
  • Komik
  • Buku anak
  • Surat kabar
  • Majalah
  • Alat tulis
  • Perlengkapan kantor
  • Materi pendidikan

Toko ini berfungsi lebih dari sekadar gerai ritel; ia merupakan bagian dari infrastruktur literasi dan pendidikan kota.

Ekspansi

Selama beberapa dekade berikutnya, GUNUNG AGUNG mengalami ekspansi yang substansial.

Aktivitas bisnisnya akhirnya meluas melampaui penjualan buku eceran ke bidang:

  • Penerbitan buku
  • Percetakan
  • Impor buku
  • Distribusi
  • Distribusi surat kabar dan majalah
  • Alat tulis
  • Produk pendidikan
  • Barang dagangan ritel lainnya

Catatan sejarah menunjukkan bahwa perusahaan membuka cabang di berbagai kota di Indonesia, termasuk Yogyakarta, Medan, Riau, dan wilayah Indonesia Timur. Perusahaan bahkan mendirikan cabang di Tokyo pada tahun 1965, yang mengilustrasikan dimensi internasional dari aktivitas perdagangan buku perusahaan pada masa itu.9

Paruh kedua abad ke-20 menyaksikan GUNUNG AGUNG tumbuh menjadi salah satu jaringan toko buku utama di tanah air.

Penerbitan

Bagian penting namun kerap terabaikan dari kisah GUNUNG AGUNG adalah perannya sebagai penerbit.

Kira-kira selama periode 1950-an hingga 1980-an, perusahaan menerbitkan berbagai karya dan seri yang mencakup sastra, filsafat, sains, dan kemasyarakatan Indonesia. Catatan sejarah menyebutkan publikasi seperti Seri Kesusasteraan Indonesia, Sebuah Tinjauan Filosofis, dan Seri Ilmu dan Masjarakat.10

Hal ini membedakan GUNUNG AGUNG dari toko buku yang murni berorientasi ritel.

Model bisnis historisnya menggabungkan beberapa tahapan ekosistem buku:

penulis β†’ penerbit β†’ pencetak/importir β†’ distributor β†’ toko buku β†’ pembaca

Keterlibatan vertikal ini membantu GUNUNG AGUNG membangun posisi yang sangat berpengaruh dalam industri perbukuan Indonesia.

Haji Masagung

Tokoh sentral dalam sejarah perusahaan adalah Tjio Wie Tay, yang kemudian dikenal luas sebagai Haji Masagung.

Ia bukan sekadar pengusaha; namanya menjadi sangat lekat dengan promosi buku dan minat baca di Indonesia.

Pendekatannya menekankan gagasan bahwa buku dapat berkontribusi pada pembangunan nasional melalui peningkatan akses terhadap pengetahuan. Hal ini sangat signifikan pada dekade-dekade awal pasca-kemerdekaan Indonesia, ketika infrastruktur penerbitan dan distribusi buku negara masih dalam tahap pengembangan.

Masagung tetap menjadi figur penting dalam bisnis ini hingga kepemimpinan secara bertahap beralih ke generasi keluarganya selanjutnya. Catatan sejarah menempatkan transisi ini menuju akhir 1980-an.11

Perkembangan Korporasi

Struktur korporasi GUNUNG AGUNG mengalami beberapa kali perubahan sepanjang sejarahnya.

Bisnis toko buku akhirnya dijalankan melalui PT Toko Gunung Agung Tbk, yang didirikan dalam restrukturisasi korporasi pada 1980-an dan secara resmi mengadopsi nama Toko Gunung Agung sebagai perusahaan pada tahun 1990.

Perusahaan ini mencatatkan sahamnya di bursa pada tahun 1992, menjadikan GUNUNG AGUNG notable sebagai bisnis toko buku Indonesia yang terbuka untuk publik. Sahamnya diperdagangkan dengan kode TKGA di bursa efek Jakarta dan Surabaya, yang kemudian menjadi bagian dari Bursa Efek Indonesia.12

Keadaan ini tidak lazim bagi industri ritel buku Indonesia dan menunjukkan skala yang telah dicapai GUNUNG AGUNG.

Restrukturisasi Korporasi pada 2010-an

Sejarah korporasi perusahaan menjadi jauh lebih rumit pada awal 2010-an.

Pada tahun 2013, PT Toko Gunung Agung Tbk diakuisisi oleh PT Permata Prima Energi melalui hak memesan efek terlebih dahulu (rights issue) senilai sekitar Rp480 miliar. Aset dan operasi toko buku kemudian dialihkan ke PT GA Tiga Belas, yang menjadi perusahaan pengoperasional jaringan toko buku GUNUNG AGUNG.13

Mantan perusahaan tercatat tersebut kemudian berganti nama menjadi PT Permata Prima Sakti Tbk dan beralih ke bisnis batu bara melalui anak usahanya. Perusahaan ini akhirnya menghapus pencatatannya dari bursa efek pada tahun 2017.

Oleh karena itu, penting untuk membedakan antara:

PT Toko Gunung Agung Tbk β€” mantan perusahaan terbuka

dan

PT GA Tiga Belas β€” perusahaan yang kemudian mengoperasikan bisnis toko buku GUNUNG AGUNG.

Produk dan Identitas Ritel

Pada masa puncaknya, GUNUNG AGUNG bukan sekadar tempat membeli buku.

Toko-tokonya umumnya menawarkan beragam produk meliputi:

  • Buku Indonesia
  • Buku impor
  • Fiksi
  • Buku anak
  • Buku pendidikan
  • Buku pelajaran
  • Majalah
  • Surat kabar
  • Alat tulis
  • Perlengkapan sekolah
  • Perlengkapan kantor
  • Bahan seni
  • Produk terkait musik
  • Peralatan olahraga
  • Barang dagangan edukasi dan gaya hidup lainnya

Rentang produk yang terdiversifikasi ini membantu GUNUNG AGUNG bersaing sebagai peritel pendidikan dan budaya umum, bukan semata-mata sebagai toko buku.

Posisi Merek

Secara historis, GUNUNG AGUNG menempati posisi unik dalam lanskap ritel Indonesia.

Merek ini diasosiasikan dengan beberapa konsep:

1. Literasi

Buku berada di pusat identitas perusahaan. Pameran dan toko ritelnya membantu meningkatkan akses terhadap materi cetak.

2. Pendidikan

Toko-tokonya sangat penting bagi pelajar dan keluarga yang membeli buku pelajaran, perlengkapan sekolah, dan materi edukasi.

3. Budaya

Melalui penerbitan dan pameran, GUNUNG AGUNG berpartisipasi dalam kehidupan intelektual dan kesusastraan Indonesia.

4. Tradisi

Sejarah panjang merek ini memberikannya tingkat pengenalan yang luar biasa di kalangan konsumen Indonesia lintas generasi.

5. Kwitang

Mungkin lebih dari lokasi mana pun, Kwitang menjadi sinonim dari GUNUNG AGUNG.

Persaingan

Sepanjang sebagian besar sejarah modernnya, GUNUNG AGUNG beroperasi berdampingan dengan jaringan toko buku Indonesia lainnya.

Kompetitor nasional utamanya adalah Gramedia, yang didirikan jauh kemudian. The Jakarta Post menggambarkan GUNUNG AGUNG sebagai salah satu toko buku tertua di Indonesia dan mencatat bahwa Gramedia didirikan hampir dua dekade setelah GUNUNG AGUNG.14

Dengan demikian, GUNUNG AGUNG merepresentasikan generasi awal ritel toko buku Indonesia, yang berasal dari periode pasca-kemerdekaan, bukan dari era mal belanja yang muncul belakangan.

Penurunan

Terlepas dari pentingnya nilai historisnya, GUNUNG AGUNG semakin kesulitan seiring berubahnya lingkungan ritel dan media di Indonesia.

Beberapa tekanan jangka panjang memengaruhi bisnis ini:

  • Pertumbuhan belanja daring
  • Perubahan kebiasaan membaca
  • Buku elektronik dan media digital
  • Penurunan permintaan surat kabar dan majalah fisik
  • Meningkatnya biaya ritel dan properti
  • Perubahan pola belanja
  • Persaingan dari toko buku modern dan niaga-el
  • Penurunan kunjungan ke toko fisik
  • Pandemi COVID-19

Manajemen perusahaan melaporkan bahwa biaya operasional semakin sulit dibenarkan dibandingkan dengan penjualan. Pandemi memperburuk situasi secara substansial.15

Penutupan Jaringan Ritel

Mulai tahun 2020, GUNUNG AGUNG mulai menutup toko di beberapa kota sebagai upaya mengurangi kerugian.

Di antara lokasi yang terdampak adalah toko di Jakarta, Bogor, Bekasi, Karawang, Semarang, Gresik, Surabaya, dan Magelang, serta daerah lainnya.

Menjelang Mei 2023, manajemen mengumumkan bahwa gerai yang tersisa juga akan ditutup karena perusahaan tidak lagi mampu menanggung kerugian operasional yang berkelanjutan.

Pada saat itu, sekitar lima gerai masih tersisa.16

Menjelang Agustus 2023, toko Kwitang dilaporkan sebagai gerai operasional terakhir, dengan stok dari cabang yang ditutup dipindahkan ke sana untuk dihabiskan.

Operasi ritel kemudian berakhir pada tahun 2023. Penelitian akademis yang diterbitkan pada tahun 2024 juga menyebutkan bahwa toko buku GUNUNG AGUNG telah tutup pada tahun 2023.17

Warisan

Penutupan GUNUNG AGUNG memiliki makna mendalam karena mewakili lebih dari sekadar hilangnya satu jaringan ritel.

Selama kurang lebih 70 tahun, perusahaan ini telah menjadi bagian dari ekosistem perbukuan Indonesia.

Warisannya dapat dibagi ke dalam beberapa bidang:

Ritel Buku

GUNUNG AGUNG membantu menetapkan toko buku modern Indonesia sebagai format ritel yang mudah dikenali.

Penerbitan

Perusahaan berpartisipasi langsung dalam produksi dan distribusi buku-buku Indonesia.

Pameran Buku

Pameran-pameran awalnya membantu memperkenalkan budaya pekan buku yang terorganisir di Indonesia pasca-kemerdekaan.

Literasi

Perusahaan berkontribusi dalam menjadikan buku, materi pendidikan, dan budaya baca lebih mudah diakses.

Sejarah Urban

Kehadirannya di Kwitang membantu mengubah lingkungan tersebut menjadi salah satu distrik buku paling terkenal di Jakarta.

Memori Antargenerasi

Bagi banyak orang Indonesia, GUNUNG AGUNG dikaitkan dengan kunjungan masa kecil, belanja keperluan sekolah, buku pelajaran, komik, novel, dan pengalaman menelusuri rak-rak buku secara fisik.

GUNUNG AGUNG dan Kwitang Saat Ini

Hubungan historis antara GUNUNG AGUNG dan Kwitang tetap kuat bahkan setelah bisnis ritelnya tutup.

Sebuah studi akademis tahun 2024 menggambarkan penutupan gedung GUNUNG AGUNG sebagai bagian dari hilangnya identitas literer kawasan tersebut dan mengusulkan pendekatan arsitektural untuk melestarikan serta menghidupkan kembali nilai sejarah situs itu.

Menariknya, toko Kwitang yang bersejarah masih dirujuk dalam sebuah acara pada November 2024, ketika Wakil Presiden saat itu, Gibran Rakabuming Raka, mengajak anak-anak dari sebuah panti asuhan ke lokasi Toko Buku GUNUNG AGUNG untuk mendorong minat baca.

Hal ini mengilustrasikan bagaimana nama tersebut terus membawa signifikansi budaya bahkan setelah penurunan ritel jaringannya.

Penggunaan Nama Pasca-Penutupan

Terdapat perbedaan penting antara toko buku GUNUNG AGUNG yang bersejarah dengan situs web yang saat ini menggunakan nama GUNUNG AGUNG.

Sebagai contoh, TokoGunungAgung.co.id mendeskripsikan dirinya sebagai portal literasi digital dan kurasi buku independen, serta secara eksplisit menyatakan bahwa situs tersebut tidak berafiliasi, tidak bekerja sama, dan tidak mewakili PT GA Tiga Belas atau mantan Toko Buku GUNUNG AGUNG yang resmi.14

Oleh karena itu, keberadaan situs web yang menggunakan nama GUNUNG AGUNG tidak boleh ditafsirkan sebagai bukti bahwa jaringan toko buku bersejarah tersebut telah melanjutkan operasinya.

Signifikansi dalam Sejarah Bisnis Indonesia

GUNUNG AGUNG sangat menarik karena sejarahnya mencerminkan evolusi Indonesia itu sendiri.

Perkembangannya secara garis besar dapat dibagi menjadi beberapa era:

1950-an β€” Pembangunan Bangsa
Republik Indonesia yang muda mengembangkan infrastruktur penerbitan dan literasinya, sementara GUNUNG AGUNG memantapkan diri melalui toko buku dan pameran buku.

1960-an–1980-an β€” Ekspansi
Perusahaan tumbuh menjadi toko buku, penerbit, importir, dan distributor utama.

1990-an–2000-an β€” Ritel Modern
GUNUNG AGUNG menjadi jaringan toko buku nasional utama dan masuk ke pasar publik.

2010-an β€” Tekanan Struktural
Perubahan dalam ritel, media, dan perilaku konsumen mulai menantang model toko buku tradisional.

2020–2023 β€” Penurunan dan Penutupan
COVID-19 mempercepat masalah yang ada, toko-toko ditutup secara bertahap, dan gerai yang tersisa akhirnya tutup permanen.

Pasca-2023 β€” Warisan Historis
GUNUNG AGUNG bertahan terutama sebagai referensi budaya dan sejarah, bukan lagi sebagai jaringan toko buku fisik berskala nasional.18

References

Profil ini disusun dengan bantuan AI dan telah ditinjau sebelum dipublikasikan. Cara kami menggunakan AI

Brand terkait