I Indonesia Brand Wiki

Tentang homic

Homic adalah label fesyen independen yang berbasis di New York dan didirikan oleh desainer asal Amerika Serikat, Joshua Homic. Merek ini muncul pada pertengahan dekade 2010-an dengan fokus utama pada fesyen fluida-gender, busana pria mewah, identitas queer, sensualitas, serta reinterpretasi terhadap konsep berpakaian formal (power dressing). Estetika Homic memadukan jahitan formal dengan referensi budaya fetish, pakaian bisnis era 1980-an, kemewahan klasik, serta unsur kitsch dari wilayah Midwest Amerika. 1

Catatan: Homic tidak boleh disamakan dengan berbagai bisnis atau produk lain yang tidak berkaitan namun menggunakan nama “Homic”. Profil ini merujuk secara spesifik pada label fesyen New York milik Joshua Homic.

Tinjauan Umum

Bidang Informasi
Merek Homic / HOMIC
Pendiri & desainer Joshua Homic
Didirikan 2015, berdasarkan profil desainer dan pers kontemporer
Koleksi komersial pertama 2016
Berbasis di New York City, United States
Industri Fesyen / Busana siap pakai mewah
Fokus utama Fesyen kontemporer dan fluida-gender
Estetika Kemewahan, power dressing, fesyen queer, referensi fetish, pakaian bisnis 1980-an
Pendidikan desainer Fashion Institute of Technology (FIT)
Periode aktivitas utama Pertengahan hingga akhir 2010-an

Profil merek di Not Just a Label menyatakan bahwa Homic didirikan pada tahun 2015 dan koleksi komersial pertamanya dirilis pada tahun 2016. Meskipun beberapa sumber sekunder menyebutkan bahwa label ini dimulai lebih awal, tahun 2015 dianggap sebagai tanggal pendirian yang terdokumentasi secara resmi. 1

Sejarah

Asal Usul

Homic diciptakan oleh Joshua Homic, seorang desainer asal Minnesota yang pindah ke New York pada usia 18 tahun untuk mempelajari fesyen. Ia menempuh pendidikan di Fashion Institute of Technology (FIT) dan kemudian bekerja sebagai asisten desainer sebelum mengembangkan labelnya sendiri. Dalam sebuah wawancara dengan OUT, ia menjelaskan bahwa pengalaman profesional tersebut membantunya memahami sisi kreatif maupun bisnis dalam menjalankan merek fesyen di New York. 2

Ketertarikan Homic terhadap fesyen telah muncul sejak dini. Sebuah artikel Star Tribune tahun 2009 mengulas remaja Josh Homic setelah ia memenangkan kompetisi desain fesyen dengan gaun yang dibuat dari sabuk pengaman mobil. Pada saat itu, ia sudah mengungkapkan keinginannya untuk mendirikan label fesyennya sendiri.

Pendirian Homic

Homic secara resmi mendirikan label eponimnya pada tahun 2015. Merek ini dikonsepkan sebagian sebagai respons terhadap keterbatasan yang dilihat Homic dalam busana pria konvensional, terutama asumsi kaku mengenai gender dan maskulinitas. Filosofi label ini adalah mengembangkan “identitas fluida-gender” alih-alih memisahkan pakaian secara ketat ke dalam kategori pria dan wanita. 1

Koleksi Homic yang tersedia secara komersial pertama kali diluncurkan pada tahun 2016. Pada tahun-tahun awalnya, label ini mendapatkan perhatian melalui editorial fesyen, kolaborasi, pameran, serta liputan di berbagai publikasi yang berfokus pada fesyen dan budaya queer. 1

Filosofi Desain

Salah satu gagasan utama Homic adalah bahwa pakaian tidak harus tunduk pada kategori gender konvensional.

Alih-alih memulai dengan pertanyaan apakah suatu garmen termasuk “busana pria” atau “busana wanita”, Homic menggambarkan proses desainnya bermula dari arketipe lemari pakaian yang familiar—seperti mantel trench, slip dress, jaket tailoring, dan kebutuhan pokok lainnya—lalu memanipulasi proporsi, material, gaya, dan konteksnya. 2

Pendekatan ini menghasilkan pakaian yang dapat terlihat secara bersamaan:

  • maskulin dan feminin
  • formal dan erotis
  • tradisional dan eksperimental
  • mewah dan subversif
  • nostalgik dan kontemporer

Estetika yang dihasilkan sangat erat kaitannya dengan reinterpretasi queer terhadap pakaian maskulin. Majalah OUT menilai label ini menggunakan fesyen untuk menantang busana pria konvensional dan mengembangkan bahasa baru dalam berpakaian formal. 2

Estetika

Bahasa visual Homic dibangun dari beberapa pengaruh yang tampak bertentangan.

Jahitan Tradisional

Busana pria klasik merupakan salah satu fondasi merek ini. Homic mengambil garmen yang mudah dikenali dan siluet formal, lalu mengubah proporsi, konstruksi, gaya, atau asosiasi gendernya.

Jaket tailoring, celana panjang, mantel, dan potongan formal lainnya menjadi landasan struktural bagi banyak tampilan.

Budaya Bisnis Era 1980-an

Merek ini sering mereferensikan kosakata visual pakaian bisnis era 1980-an—terutama siluet yang dilebih-lebihkan, glamor korporat, serta gagasan tentang status dan otoritas pada masa itu. 1

Bukannya mereproduksi fesyen tahun 1980-an secara harfiah, Homic menggunakan kualitas hiperbolisnya untuk membuat ide konvensional tentang maskulinitas profesional terlihat teatrikal.

Budaya Fetish

Budaya fetish juga menjadi pengaruh penting. Deskripsi merek sendiri mengidentifikasi budaya fetish dan pengejaran ekstasi di dalamnya sebagai sumber inspirasi yang berulang. 1

Hal ini memasukkan elemen sensualitas, erotisme, dan pertunjukan ke dalam garmen yang mungkin sebaliknya diasosiasikan dengan pakaian formal konservatif.

Kitsch Midwest

Homic juga mengidentifikasi kitsch Midwest sebagai bagian dari kosakata visual mereknya. Referensi ini menarik karena menghubungkan latar belakang Minnesota sang desainer dengan lingkungan fesyen New York yang jauh lebih kosmopolitan. 1

Glamour Hollywood Klasik dan Historis

Homic telah menyatakan kekagumannya terhadap fesyen dari era 1940-an dan 1950-an, termasuk karya desainer seperti Jacques Fath dan Christian Dior, serta fotografi fesyen glamor dari tokoh seperti Richard Avedon dan Irving Penn. 2

Film juga memberikan pengaruh signifikan. Homic menyebut film-film seperti La Dolce Vita dan Jackie sebagai inspirasi karena atmosfer, ketegangan emosional, tata adegan (mise-en-scène), dan nuansa glamornya. 2

Gender dan Identitas Queer

Aspek terpenting dari Homic adalah hubungannya dengan identitas queer.

Label ini tidak sekadar dirancang untuk membuat pakaian “uniseks”. Filosofinya memandang gender itu sendiri sebagai sesuatu yang dapat dipertanyakan, dipertunjukkan, dicampur, dan direkonstruksi melalui pakaian.

Homic mendeskripsikan misinya sebagai kontribusi terhadap dialog yang lebih luas tentang identitas diri dan ekspresi diri, khususnya dalam komunitas queer. 2

Filosofi ini tercermin langsung pada garmennya. Blazer yang secara tradisional maskulin bisa dibuat sensual atau flamboyan; siluet yang secara tradisional feminin dapat dihadirkan dalam konteks busana pria mewah.

Oleh karena itu, pakaian Homic dapat dipahami sebagai bentuk eksperimen fesyen seputar maskulinitas.

Office Magazine juga menggambarkan karya Homic sebagai respons terhadap norma sosial dan menekankan tema-tema identitas, pembebasan, dan penerimaan pada label tersebut.

Konsep “Power Dressing”

Power dressing adalah salah satu konsep sentral di balik Homic.

Power dressing tradisional umumnya diasosiasikan dengan setelan jas, bahu terstruktur, jahitan formal, dan pakaian yang dimaksudkan untuk mengomunikasikan otoritas. Homic mempertahankan kode-kode tersebut namun sekaligus mengguncangnya.

Alih-alih bertanya:

Seperti apa rupa pria yang berkuasa?

Homic secara efektif bertanya:

Apa yang terjadi ketika kekuasaan, maskulinitas, femininitas, seksualitas, dan glamor dibiarkan berdampingan?

Hal ini menghasilkan bentuk khas dari power dressing mewah queer.

Merek itu sendiri menggambarkan tujuannya sebagai upaya membangun bahasa baru untuk power dressing, sementara OUT juga menyebut Homic menulis ulang konvensi busana pria. 1

Koleksi

Salah satu koleksi yang terdokumentasi adalah AW/SS 2017 “formalities.”

Koleksi ini mengkaji jahitan busana pria tradisional sembari membandingkannya dengan budaya pemuda New York. Koleksi tersebut menggunakan siluet yang dilebih-lebihkan yang berasal dari kebutuhan pokok lemari pakaian yang mudah dikenali, serta mengeksplorasi tekstil yang terkait dengan ikatan dan konstruksi dua sisi. 1

Pengaruh pada koleksi ini meliputi:

  • jahitan busana pria tradisional
  • budaya pemuda New York
  • fesyen yuppie era 1980-an
  • budaya fetish
  • tekstil berorientasi utilitas
  • siluet yang dilebih-lebihkan
  • busana formal mewah

Potongan-potongan yang terdokumentasi dari koleksi ini mencakup gaun “split”, jumpsuit “worker”, mantel trench, mantel ultra-suede, celana rokok, rompi felt, jaket windbreaker, shirt dress, bralette, slip dress, kulot, smock dress, dan celana pendek kasmir. 1

Ini menggambarkan fitur penting dari Homic: label ini tidak serta-merta meninggalkan garmen tradisional, melainkan menempatkannya kembali dalam konteks baru.

Material dan Siluet

Kosakata desain Homic cenderung mengarah pada siluet yang kuat dan mudah dikenali daripada pakaian dasar minimalis.

Karakteristik umum meliputi:

  • proporsi yang dilebih-lebihkan
  • jahitan terstruktur
  • tekstil mewah
  • jaket dan mantel formal
  • elemen sensual atau terbuka
  • penjajaran bentuk maskulin dan feminin
  • detail dekoratif
  • penataan gaya teatrikal
  • kombinasi elemen konservatif dan provokatif

Liputan kontemporer mencatat contoh-contoh seperti jahitan beludru hitam dengan bordir emas, atasan halter dengan pita dan payet, serta sepatu bot setinggi paha dengan pola bunga yang halus. 2

Kontras ini disengaja: garmen yang berwibawa bisa menjadi erotis, sementara garmen yang secara tradisional feminin dapat menjadi ekspresi kekuatan maskulin.

Posisi Budaya

Homic muncul pada periode ketika para desainer dan komunitas fesyen semakin mempertanyakan definisi konvensional tentang gender.

Kemunculan merek ini bertepatan dengan gerakan yang lebih luas menuju:

  • fesyen fluida-gender
  • estetika non-biner
  • representasi queer
  • reinterpretasi busana pria
  • fesyen sebagai politik identitas
  • kaburnya batas antara busana pria dan wanita

i-D memasukkan Homic di antara desainer baru yang dipengaruhi oleh Comme des Garçons, mencatat kombinasi label ini antara kitsch Midwest, pakaian fetish, power dressing mewah, dan referensi komunitas queer.

Hal ini menempatkan Homic dalam perkembangan fesyen queer dan fluida-gender kontemporer yang lebih luas, sambil tetap mempertahankan identitas visual yang khas Amerika dan berorientasi pada New York.

Desainer: Joshua Homic

Joshua Homic adalah pendiri dan kekuatan kreatif di balik label ini.

Lahir dan dibesarkan di Minnesota, ia pindah ke New York pada usia 18 tahun dan belajar di Fashion Institute of Technology. Sebelum mendirikan Homic, ia bekerja secara profesional sebagai asisten desainer. 2

Latar belakang Minnesota dan pengalamannya di New York sama-sama relevan bagi merek ini. Kombinasi tersebut membantu menjelaskan percampuran unik antara referensi Midwest, budaya pemuda metropolitan, glamor historis, dan estetika kehidupan malam queer yang ditemukan di seluruh karya Homic.

Homic juga memiliki asosiasi profesional dengan desainer Melitta Baumeister, tercatat dalam rekam perusahaan sebagai bagian dari operasi fesyennya yang berbasis di New York. 3

Media dan Pengakuan

Meskipun Homic tetap menjadi label independen yang relatif kecil, merek ini menerima perhatian yang cukup besar pada tahun-tahun awalnya.

Liputan dan editorial muncul di berbagai media, termasuk:

  • OUT
  • i-D
  • Office Magazine
  • Teeth Magazine
  • Not Just a Label
  • The Ones 2 Watch

1

Office Magazine melaporkan bahwa desain Homic telah dikenakan oleh tokoh-tokoh seperti Lady Gaga dan Avie Acosta, sementara juga mencatat kemunculannya di publikasi fesyen seperti Tabula Rasa dan GAYLETTER.

Merek ini juga berpartisipasi dalam aktivitas presentasi internasional; Homic menyampaikan kepada OUT bahwa ia telah menyelesaikan pameran di Tokyo pada Februari 2017. 2

Pengaruh dan Signifikansi

Signifikansi historis Homic bukan karena ia menjadi rumah mode global raksasa, melainkan karena ia mewakili momen tertentu dalam evolusi fesyen queer Amerika.

Pentingnya terletak pada beberapa bidang:

Mendefinisikan Ulang Busana Pria

Homic menantang gagasan bahwa busana pria harus tetap maskulin secara konvensional.

Identitas Queer sebagai Prinsip Desain

Queerness bukan sekadar bagian dari pemasaran. Homic memperlakukan identitas dan ekspresi diri sebagai hal mendasar bagi tujuan garmennya. 2

Reinterpretasi Kekuasaan

Setelan jas dan simbol otoritas lainnya diubah menjadi objek sensualitas, glamor, dan ekspresi diri.

Memadukan Referensi Budaya Tinggi dan Rendah

Label ini menggabungkan jahitan mewah dengan budaya fetish, estetika korporat 1980-an, kitsch Midwest, budaya populer, dan kehidupan malam queer.

Desain Fluida-Gender

Alih-alih sekadar membuat koleksi pria dan wanita yang terpisah, Homic mempertanyakan apakah pembedaan itu memang diperlukan.

Identitas Visual Homic dalam Satu Kalimat

Homic dapat dideskripsikan sebagai label mewah queer New York yang mentransformasi busana pria tradisional dan power dressing melalui fluiditas gender, erotisme, glamor historis, dan referensi fesyen Amerika yang dilebih-lebihkan.

Warisan

Kontribusi paling khas dari Homic adalah perlakuannya terhadap maskulinitas sebagai sesuatu yang fleksibel, bukan tetap.

Label ini mengambil garmen yang secara historis diasosiasikan dengan otoritas—jas, mantel, celana panjang tailoring—dan menempatkannya berdampingan dengan elemen yang secara tradisional feminin atau erotis. Ketegangan yang dihasilkan pada dasarnya merupakan ciri khas merek ini.

Dalam pengertian itu, Homic termasuk dalam generasi desainer independen yang memperlakukan fesyen bukan sekadar sebagai pakaian, tetapi sebagai sarana untuk mengeksplorasi identitas, seksualitas, gender, kekuasaan, dan kebebasan pribadi.

Karyanya dari pertengahan 2010-an memberikan potret yang jelas mengenai percakapan yang muncul pada periode tersebut seputar busana pria queer dan fesyen mewah fluida-gender. 2

References

Profil ini disusun dengan bantuan AI dan telah ditinjau sebelum dipublikasikan. Cara kami menggunakan AI

Brand terkait