Tentang Pero
Profil Singkat
Pero (sering ditulis sebagai péro) adalah label mode kontemporer asal India yang didirikan oleh desainer Aneeth Arora pada tahun 2009. Merek ini dikenal karena kemampuannya menggabungkan keahlian tekstil tradisional India dan teknik kerajinan tangan dengan siluet pakaian yang modern dan berorientasi internasional. Berbeda dengan pendekatan yang hanya menjadikan kerajinan India sebagai warisan dekoratif, Pero menempatkan proses pembuatan tekstil itu sendiri sebagai inti dari identitas mereknya. 1
| Informasi Dasar | Detail |
|---|---|
| Merek | Pero / péro |
| Pendiri & Direktur Kreatif | Aneeth Arora |
| Didirikan | 2009 |
| Asal Negara | India |
| Basis Operasional | New Delhi, India |
| Industri | Mode, tekstil, dan pakaian jadi |
| Fokus Desain | Mode kontemporer berbasis kerajinan |
| Filosofi Utama | Keahlian kerajinan India + estetika global |
| Arti Nama | “Untuk dikenakan” dalam bahasa Marwari |
| Kehadiran Internasional | Secara historis dijual di sekitar 30 negara dan lebih dari 150 toko |
Fashion Design Council of India (FDCI) mendeskripsikan Pero sebagai label yang menggunakan keterampilan pribumi serta tradisi tekstil dan pakaian kuno, namun mengadaptasinya untuk konsumen modern. FDCI juga mencatat kehadiran merek ini di berbagai belahan dunia. 2
Asal Usul Nama dan Makna
Kata “péro” berarti “untuk dikenakan” dalam bahasa Marwari, sebuah bahasa yang terkait dengan wilayah Rajasthan. Nama ini sangat tepat mengingat karya Aneeth Arora sangat dipengaruhi oleh praktik pakaian sehari-hari dan cara berpakaian yang ia temui di Rajasthan dan bagian lain di India.
Inspirasi utama Pero bukanlah pakaian seremonial atau kerajaan India. Arora telah menyatakan ketertarikannya pada pakaian fungsional biasa—yaitu pakaian yang benar-benar digunakan orang untuk hidup, bekerja, dan tidur. Minat inilah yang menjadi fondasi bagi penekanan Pero pada kenyamanan, kemudahan, dan kepraktisan pemakaian sehari-hari.
Pendiri: Aneeth Arora
Aneeth Arora adalah seorang desainer tekstil dan mode asal India sekaligus pendiri Pero. Ia menempuh pendidikan tekstil di National Institute of Design (NID), Ahmedabad, dan kemudian mempelajari mode di National Institute of Fashion Technology (NIFT). FDCI menggambarkan identitas profesional pilihan Arora sebagai “pembuat tekstil dan gaun”, yang mencerminkan betapa sentralnya peran kain dan pengembangan tekstil dalam praktiknya.
Sebelum mendirikan Pero, Arora pernah bekerja bersama desainer seperti Abraham & Thakore dan juga terlibat dalam kerajinan kertas. Ia akhirnya memutuskan untuk mendirikan labelnya sendiri pada tahun 2009. Catatan awal menggambarkan Pero dimulai pada skala yang sangat kecil, dengan Arora, seorang penjahit tunggal, dan satu kurir yang bekerja dari sebuah ruangan di rumahnya.
Awal mula yang sederhana ini penting karena reputasi internasional Pero kemudian dibangun tanpa meninggalkan model produksinya yang padat karya.
2009: Pendirian
Pero didirikan pada tahun 2009. Sejak awal, label ini dikonsepkan dengan ide mengambil bahan, teknik, dan tradisi pakaian lokal India, lalu menerjemahkannya menjadi produk yang dapat dikomunikasikan secara internasional.
Alih-alih memulai dengan formula mode mewah konvensional yang penuh bordir rumit dan pakaian acara khusus, Pero berfokus kuat pada kain, konstruksi, tekstur, dan pakaian sehari-hari. Pendekatan ini cukup tidak lazim dalam lingkungan mode desainer India pada masa itu. Siluet longgar dan penekanan pada tekstil membedakan merek ini dari interpretasi mode India yang lebih formal dan banyak hiasan.
Pengakuan Awal
Perlahan-lahan, Pero menarik perhatian media mode India dan pembeli internasional. Vogue India menyoroti pendekatan unik Arora terhadap tekstil dan kemampuannya mengubah kain sederhana atau tidak konvensional menjadi mode yang diinginkan. Merek ini kemudian mengembangkan basis pelanggan internasional, dengan distribusi yang dilaporkan mencakup sekitar 30 negara.
Filosofi Desain
Filosofi desain Pero dapat dipahami melalui beberapa gagasan yang saling terkait:
1. Kerajinan Mendahului Dekorasi
Bagi Pero, keahlian kerajinan India bukan sekadar tambahan hiasan pada garmen yang konon saja. Tekstil itu sendiri adalah bagian dari konsep desain. Kain mungkin ditenun tangan, dicelup, dicetak, dibordir, atau dikembangkan melalui teknik tradisional lainnya. Deskripsi resmi Pero menekankan bahwa bahan-bahan tersebut melewati tangan berbagai pengrajin, menciptakan rantai pengetahuan dan keterlibatan manusia. 3
2. Teknik Lokal, Penampilan Global
Salah satu prinsip pendefinisi merek ini adalah: Bahan dan keterampilan India, diinterpretasikan melalui bahasa desain global. Pero tidak berusaha mereproduksi pakaian tradisional India secara persis. Sebaliknya, merek ini mengambil inspirasi dari pakaian regional dan mengubahnya menjadi garmen kontemporer yang dapat berfungsi di berbagai lingkungan budaya. Inilah sebabnya mengapa sebuah garmen Pero dapat mengandung tradisi tekstil India yang tak terbantahkan, sementara siluet keseluruhannya terasa kontemporer atau internasional.
3. Pakaian Sehari-hari
Pero sangat tertarik pada pakaian untuk kehidupan sehari-hari, daripada pakaian yang hanya ada untuk acara-acara khusus. Kenyamanan, pergerakan, dan kemudahan adalah hal yang penting. Minat Arora pada pakaian lokal biasa telah menghasilkan bahasa desain yang sering kali terasa santai, informal, dan personal. 4
4. Anti-Fit
Label ini sering dikaitkan dengan siluet anti-fit atau longgar. Alih-alih merancang garmen terutama di sekitar kontur tubuh yang terkontrol ketat, Pero sering menggunakan volume, lapisan, bentuk longgar, dan proporsi yang generous. Estetika merek ini digambarkan sebagai “anti-fit”, yang dikaitkan dengan cara berpakaian yang sengaja tidak konvensional dan santai.
Tekstil dan Keahlian Kerajinan
Pengembangan tekstil bisa dibilang merupakan jantung dari Pero. Merek ini telah bekerja sama dengan pengrajin dari berbagai wilayah di India, menggunakan pengetahuan regional untuk mengembangkan tekstil tenun tangan, celup, dan cetak. Kolaborasi dilaporkan melibatkan pengrajin dari tempat-tempat termasuk Gujarat, Rajasthan, West Bengal, Karnataka, Andhra Pradesh, Kerala, Odisha, Madhya Pradesh, Uttar Pradesh, Himachal Pradesh, dan Jammu & Kashmir.
Ini berarti Pero tidak sekadar mencari sumber tekstil tradisional jadi dan memasukkannya ke dalam gaun modern. Pendekatannya melibatkan penelitian, adaptasi, dan pengembangan tekstil bersama para pengrajin. Selama satu dekade, merek ini dilaporkan bekerja dengan lebih dari 1.000 penenun dan pengrajin serta mengembangkan numerous tekstil setiap musim.
Proses kreatif Pero beroperasi di antara beberapa bidang:
- Desain mode
- Desain tekstil
- Kebangkitan kerajinan
- Kolaborasi pengrajin
- Penelitian budaya
- Ready-to-wear kontemporer
Estetika
Identitas visual Pero umumnya ditandai oleh:
- Siluet santai dan anti-fit
- Penggunaan lapisan (layering)
- Tekstil buatan tangan
- Bordir tangan
- Kain tenun tangan
- Cetakan dan perawatan permukaan
- Patchwork dan manipulasi tekstil
- Detail yang playful
- Referensi nostalgik
- Bahan alami dan bertekstur
- Bentuk nyaman untuk sehari-hari
- Kualitas buatan tangan yang sengaja tidak sempurna
Hasil keseluruhan dapat terlihat playful, romantis, eksentrik, dan artisanal, tetapi umumnya dirancang agar tetap dapat dikenakan. Robb Report dalam profil terbarunya tentang label ini juga menggambarkan Pero sebagai gabungan ide kerajinan tangan, nostalgik, dan berkelanjutan, sambil mempertahankan pendekatan anti-fit khasnya. 5
Keberlanjutan dan Slow Fashion
Keberlanjutan adalah bagian penting dari persepsi kontemporer terhadap Pero, meskipun hal ini lebih baik dipahami melalui filosofi kerajinan dan produksi merek daripada sekadar pemasaran lingkungan. Penggunaan kerajinan tangan, produksi artisanal, teknik tradisional, dan eksperimen tekstil oleh label ini secara alami menempatkannya dalam percakapan slow-fashion yang lebih luas.
Pero juga telah mengeksplorasi penggunaan kembali tekstil dan limbah kain. Modelnya kontras dengan mode produksi massal karena nilai besar ditempatkan pada: waktu + keahlian kerajinan + pengetahuan tekstil + tenaga kerja manusia + individualitas. Garmen yang dihasilkan sering memiliki variasi yang melekat pada produksi buatan tangan, bukan dianggap sebagai cacat.
Pero dan Kerajinan India
Salah satu kontribusi terpenting Pero bagi mode India kontemporer adalah pendekatannya terhadap hubungan antara kerajinan dan modernitas. Kerajinan tradisional India sering disajikan dalam mode melalui motif yang sangat mudah dikenali: bordir, cermin, tekstil kerajaan, sari berhias, pakaian pengantin, dll.
Pero mengambil rute berbeda. Alih-alih bertanya: “Bagaimana kerajinan tradisional India dibuat lebih mewah?”, filosofinya lebih dekat ke: “Bagaimana pengetahuan tradisional India dibuat relevan untuk pakaian sehari-hari kontemporer?”
Distingsi ini membantu menjelaskan mengapa Pero terlihat berbeda dari banyak label mewah India lainnya.
Identitas Internasional
Meskipun berakar kuat di India, Pero sejak awal dikonsepkan sebagai merek mode yang dapat dipahami secara internasional. Filosofinya secara eksplisit berbicara tentang menciptakan garmen yang dapat terasa sama alaminya di tempat-tempat seperti Paris atau London sebagaimana di India. Oleh karena itu, merek ini menempati posisi yang menarik: India dalam proses, internasional dalam presentasi. Pakaiannya tidak selalu mengharuskan pemakainya memahami referensi budaya India untuk dapat mengenakannya.
Ritel dan Distribusi
Pero telah mengembangkan kehadiran ritel internasional, bukan hanya mengandalkan butik miliknya sendiri. Daftar FDCI secara historis mencakup pengecer multi-merek India seperti Ogaan, Good Earth, Evoluzione, Amethyst, Le Mill, Elahe, dan Hot Pink, antara lain. Merek ini juga tercatat dijual di sekitar 30 negara dan lebih dari 150 toko, menunjukkan jangkauan internasional yang dicapai oleh brand tersebut.
Penghargaan dan Pengakuan
Aneeth Arora dan Pero telah menerima pengakuan signifikan dalam ekosistem mode India dan internasional. Di antara tonggak penting yang dikaitkan dengan Arora adalah:
- Vogue India’s first Fashion Fund Award
- Marie Claire Eco Fashion recognition
- Young Creative Fashion Entrepreneur recognition
- Nominasi untuk International Woolmark Prize
Reputasi Pero khususnya dibangun di sekitar inovasi tekstilnya, bukan mode yang didorong selebritas konvensional.
Kolaborasi
Pero juga memperluas kosakata tekstilnya melalui kolaborasi. Contoh terbaru yang menonjol adalah kolaborasinya dengan Liberty Fabrics, yang diluncurkan sebagai “Flowers Flower” di London pada Juli 2025. Kolaborasi ini mengilustrasikan bagaimana Pero terus menghubungkan pendekatan berbasis kerajinan Indianya dengan budaya tekstil internasional.
Posisi Merek
Pero berada di ruang yang tidak biasa dalam industri mode. Ini bukan kemewahan Barat konvensional karena identitasnya sangat bergantung pada tradisi tekstil India dan pengetahuan pengrajin. Ini juga bukan sekadar “merek mode berkelanjutan” karena keberlanjutan terjalin dengan filosofi desain yang lebih besar, bukan menjadi proposisi penjualan tunggal.
Pemetaan posisi mereknya adalah:
Kerajinan India → Eksperimen Tekstil → Siluet Kontemporer → Kenyamanan + Individualitas → Mode Internasional
Kombinasi ini pada dasarnya adalah DNA merek Pero.
Warisan dan Signifikansi
Pero signifikan dalam mode India kontemporer karena membantu membuktikan bahwa kerajinan India dapat disajikan melalui kosakata mode modern yang mudah dibaca secara global tanpa kehilangan asal-usul budayanya. Pendekatan Aneeth Arora mengalihkan perhatian dari gagasan bahwa mode India harus identik dengan pakaian acara yang rumit. Pero sebaliknya menetapkan bahasa kenyamanan, kekayaan tekstil, ketidaksempurnaan, kerajinan, dan keindahan sehari-hari.
Kesuksesannya juga mengilustrasikan bagaimana label mode berskala relatif kecil dan padat karya dapat membangun pengakuan internasional tanpa mengadopsi logika produksi mode pasar massal. Dalam pengertian itu, Pero mewakili versi tertentu dari mode India modern: bukan “India tradisional dibuat modern,” tetapi “pengetahuan India dibiarkan berevolusi menjadi sesuatu yang modern.”





