I Indonesia Brand Wiki

Tentang Antangin

Antangin adalah merek obat herbal Indonesia yang dimiliki dan diproduksi oleh PT Deltomed Laboratories, sebuah perusahaan obat tradisional yang berbasis di Wonogiri, Jawa Tengah. Merek ini paling dikenal melalui produk andalannya, Antangin JRG, yaitu sediaan herbal yang dipasarkan terutama untuk meredakan gejala yang umum disebut sebagai masuk angin, termasuk ketidaknyamanan seperti pilek, mual, kembung, demam, dan kelelahan.1

Antangin merupakan salah satu merek terkemuka dalam pasar jamu dan obat herbal bebas di Indonesia. Identitas merek ini dibangun di atas konsep solusi herbal praktis, rasa hangat, ketahanan sehari-hari, serta kedekatan dengan budaya masyarakat Indonesia.1

Informasi Umum

Informasi Keterangan
Merek Antangin
Pemilik / Produsen PT Deltomed Laboratories
Industri Obat herbal / obat tradisional
Negara asal Indonesia
Tahun berdirinya induk perusahaan 1976
Kantor pusat / basis produksi Wonogiri, Jawa Tengah, Indonesia
Produk paling dikenal Antangin JRG
Kepanjangan JRG Jahe, Royal Jelly, Ginseng
Kategori utama Obat herbal untuk masuk angin dan gejala terkait
Bentuk sediaan Cairan/sirup, tablet, dan permen/lozenges tergantung varian
Varian utama JRG, Habbatussauda, Mint, Junior, Good Night, JRG + Red Ginger
Platform merek terkini “Pejuang Pantang Tumbang”
Slogan ikonik “Wes ewes ewes, bablas angine”

Portofolio produsen saat ini mencakup Antangin JRG, Habbatussauda, Mint, Junior, tablet Good Night, dan tablet JRG + Red Ginger, serta sejumlah produk lainnya.1

Sejarah

Awal Mula

Sejarah Antangin berkaitan erat dengan Deltomed Laboratories, produsen obat herbal Indonesia yang akarnya bermula pada era 1970-an.

Berdasarkan catatan korporat Deltomed, perusahaan ini didirikan pada tahun 1976 di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, dengan produk awal bernama Pil Ampuh. Pada tahun 1988, pengusaha Purwanto Rahardjo mengakuisisi Delto melalui PT Marguna, yang kemudian memindahkan operasional produksi dari Banjarmasin ke Wonogiri, Jawa Tengah. Putranya, Mulyo Rahardjo, bergabung dengan perusahaan pada tahun 1992 dan selanjutnya menjabat sebagai CEO.1

Kronologi pasti awal kemunculan Antangin bervariasi menurut berbagai sumber sejarah. Sebuah studi kasus Superbrands menyebutkan bahwa Antangin JRG bermula sekitar tahun 1980 dengan nama “Antingin”, sebelum kemudian mengalami perubahan nama. Sementara itu, penelitian akademis menggambarkan merek ini muncul pada era 1970-an dan berganti nama menjadi Antangin pada dekade 1990-an.2

Hal yang tercatat secara konsisten adalah evolusi merek ini dari produk jamu tradisional menjadi obat herbal kemasan yang lebih modern.

Kebangkitan Antangin JRG

Produk penentu dalam portofolio Antangin adalah Antangin JRG. Huruf JRG merujuk pada tiga bahan khasnya:

  • J — Jahe
  • R — Royal Jelly
  • G — Ginseng

Deltomed menyebut jahe, royal jelly, dan ginseng sebagai komponen kunci formulasi JRG. Portofolio Antangin yang lebih luas juga menggunakan bahan-bahan lain seperti daun sembung, peppermint, licorice, pala, meniran, kunyit, mint, dan madu, tergantung pada jenis produknya.1

Salah satu inovasi historis Antangin JRG adalah bentuk sediaannya berupa tablet. Pada masa ketika banyak produk jamu Indonesia identik dengan sediaan serbuk, Antangin JRG diposisikan sebagai alternatif modern yang lebih praktis.2

Deltomed kemudian memperkenalkan Antangin JRG dalam bentuk cair pada tahun 2003, memperluas jangkauan merek melampaui bentuk tablet dan membantu mempopulerkan format sachet yang kini lekat dengan produk tersebut.2

Kegunaan Antangin

Antangin dipasarkan sebagai produk herbal untuk meredakan gejala umum yang berkaitan dengan masuk angin.

Deltomed saat ini mendeskripsikan Antangin dapat membantu meredakan:

  • Gejala seperti masuk angin/pilek
  • Mual
  • Perut kembung
  • Demam
  • Kelelahan

Merek ini juga mengaitkan kandungan herbalnya dengan efek menghangatkan tubuh dan mendukung sistem imun.1

Perlu dibedakan bahwa istilah “masuk angin” bukanlah diagnosis biomedis spesifik, melainkan ungkapan kultural yang akrab di masyarakat Indonesia untuk menggambarkan kumpulan gejala seperti merasa kedinginan, lelah, mual, kembung, atau tidak enak badan. Pemasaran Antangin sangat bertumpu pada konsep budaya ini.

Portofolio Produk

Antangin telah berkembang jauh melampaui formulasi JRG aslinya.

Antangin JRG

Merupakan produk unggulan. Namanya berasal dari Jahe–Royal Jelly–Ginseng. Tersedia dalam sediaan cair dan tablet, serta menjadi produk yang paling kuat diasosiasikan dengan nama Antangin.1

Antangin Habbatussauda

Varian yang mengintegrasikan habbatussauda (Nigella sativa atau jintan hitam) ke dalam posisi herbal merek ini.

Antangin Mint

Varian berorientasi mint yang dirancang untuk memberikan rasa dan sensasi yang lebih segar.

Antangin Junior

Produk yang diposisikan khusus untuk anak-anak, dengan formulasi dan takaran saji yang berbeda dari produk dewasa reguler.

Antangin Good Night

Varian yang ditujukan untuk penggunaan malam hari; Deltomed saat ini mencantumkannya dalam bentuk tablet.

Antangin JRG + Red Ginger

Formulasi tablet yang memadukan konsep JRG dengan jahe merah.

Laman merek Deltomed saat ini mencantumkan varian-varian tersebut dan menyatakan bahwa produk Antangin didistribusikan melalui apotek, toko kelontong modern, dan supermarket, dengan berbagai bentuk sediaan meliputi sirup, tablet, dan permen.1

Basis data regulasi obat tradisional resmi Indonesia juga mencatat sejumlah produk dan formulasi terdaftar Antangin, termasuk Antangin JRG, JRG + Madu, JRG Bebas Gula, Habbatussauda, Junior, Mint, Good Night, dan lainnya.

Bahan dan Posisi Herbal

Identitas Antangin sangat melekat pada obat herbal Indonesia. Formulasinya dapat mengandung kombinasi bahan botani dan alami, antara lain:

  • Jahe
  • Ginseng
  • Royal jelly
  • Daun sembung
  • Peppermint
  • Licorice
  • Pala
  • Meniran
  • Kunyit
  • Mint
  • Madu

Tidak semua varian Antangin mengandung seluruh daftar bahan tersebut; komposisinya disesuaikan dengan spesifikasi masing-masing produk.1

Hal ini menempatkan merek ini pada posisi unik di antara jamu tradisional Indonesia dan produk kesehatan konsumen kemasan modern.

Positioning Merek

Proposisi awal Antangin relatif lugas: solusi herbal modern dan praktis bagi mereka yang mengalami masuk angin. Namun, positioning merek ini telah berevolusi.

Alih-alih menampilkan diri semata-mata sebagai produk obat-obatan, Antangin kontemporer semakin mengasosiasikan merek dengan orang-orang yang tetap bertahan meski menghadapi kesulitan sehari-hari.

Deltomed mendeskripsikan persona merek Antangin sebagai “Sobat Kental Seperjuangan”, yakni sahabat dekat yang menemani konsumen melewati momen-momen sulit.1 Ini merupakan pergeseran signifikan: Antangin tidak hanya menjual obat herbal, tetapi juga gagasan emosional tentang ketangguhan.

“Pejuang Pantang Tumbang”

Salah satu platform merek terpenting Antangin dalam beberapa tahun terakhir adalah “Pejuang Pantang Tumbang”. Frasa ini kurang lebih bermakna “pejuang yang menolak menyerah” atau “pahlawan yang tidak pernah putus asa”.

Deltomed menjelaskan kampanye ini sebagai upaya memposisikan ulang Antangin di sekitar ketangguhan rakyat biasa—seperti orang tua, pekerja, dan individu yang menjalani rutinitas harian yang menuntut.1

Kampanye ini dikembangkan bersama sineas Dimas Djayadiningrat dan menggambarkan orang biasa sebagai pahlawan sehari-hari, alih-alih hanya berfokus pada aspek penyakit.1

Kampanye ini berlanjut hingga 2026. Kampanye Mei 2026 yang menampilkan aktris Dian Sastrowardoyo melanjutkan platform “Pejuang Pantang Tumbang” dan memposisikan Antangin JRG sebagai pendamping bagi masyarakat Indonesia yang menghadapi tuntutan hidup sehari-hari.3

Slogan dan Identitas Iklan

Antangin memiliki identitas verbal yang sangat mudah dikenali dalam kategori obat herbal di Indonesia. Frasa iklannya yang terkenal adalah:

“Wes ewes ewes, bablas angine.”

Ungkapan ini menggunakan gaya bahasa kolokial bernuansa Jawa/Indonesia yang secara kasar menyampaikan ide menghilangkan rasa tidak nyaman.

Menurut Deltomed, frasa tersebut telah menjadi bagian dari identitas merek Antangin yang mudah dikenali dan mencerminkan preferensi merek terhadap humor, kehangatan, serta kedekatan dengan konsumen, alih-alih gaya komunikasi yang terlalu klinis.1

Hal ini penting secara strategis karena iklan jamu sering kali harus bersaing bukan hanya berdasarkan klaim fungsional, tetapi juga melalui kedekatan dan resonansi budaya.

Strategi Pemasaran

Secara historis, Antangin sangat mengandalkan iklan massal, khususnya televisi. Studi kasus Superbrands mencatat bahwa Antangin JRG telah dipromosikan melalui iklan televisi sejak tahun 1997, di samping radio, media cetak, iklan luar ruang, dan sampling produk langsung.2

Strategi ini membantu merek mengomunikasikan tiga hal secara bersamaan:

  1. Fungsi produk — meredakan masuk angin
  2. Kepraktisan — sachet cair/tablet yang mudah digunakan
  3. Modernitas — obat herbal dalam format konsumen kontemporer

Belakangan ini, merek beralih menuju storytelling dan lifestyle branding, terutama melalui kampanye “Pejuang Pantang Tumbang”.1

Distribusi

Antangin secara historis didistribusikan secara luas di seluruh Indonesia, dari wilayah perkotaan hingga komunitas kecil. Profil Superbrands juga mendokumentasikan distribusi di luar Indonesia, termasuk Singapura, Malaysia, Hong Kong, Taiwan, dan sebagian Timur Tengah.2

Saat ini, Deltomed menyatakan produk Antangin tersedia melalui:

  • Apotek
  • Toko kelontong modern (convenience store)
  • Supermarket

Dengan demikian, merek ini menempati ruang unik: sekaligus sebagai produk herbal tradisional dan merek kesehatan konsumen pasar massal.1

Hubungan dengan Deltomed

Antangin bukanlah perusahaan farmasi independen, melainkan merek di bawah naungan PT Deltomed Laboratories.

Deltomed mendeskripsikan dirinya sebagai perusahaan produk herbal Indonesia yang berfokus pada penggabungan sumber daya alam dengan teknologi modern. Visi yang dinyatakan adalah menjadi perusahaan inovasi berbasis herbal terpercaya yang berkontribusi pada gaya hidup lebih sehat.1

Basis produksi perusahaan berada di Nambangan, Selogiri, Wonogiri, Jawa Tengah. Informasi ekspor pemerintah Indonesia mengidentifikasi Deltomed sebagai eksportir dan produsen dengan kategori produk utama obat herbal.

Portofolio Deltomed yang lebih luas mencakup merek/produk seperti Pilkita, Antangin, Herbamojo, Herbana, dan OB Herbal.1

Identitas Merek

Identitas Antangin secara garis besar dapat dipahami melalui lima karakteristik:

🌿 Herbal

Merek ini menekankan bahan alami dan herbal serta akarnya dalam tradisi jamu Indonesia.

🔥 Kehangatan

Jahe dan konsep sensasi hangat pada tubuh merupakan inti dari pengalaman konsumen Antangin.

💪 Ketangguhan

Platform “Pejuang Pantang Tumbang” yang lebih baru mengasosiasikan merek dengan kegigihan dan tekad.

🇮🇩 Kedekatan Budaya Indonesia

Konsep masuk angin, bahasa iklan kolokial, dan karakter keseharian Indonesia menjadikan Antangin sangat terlokalisasi secara budaya.

🧳 Kepraktisan

Format sachet cair dan tablet membuat produk mudah dibawa dan dikonsumsi, yang menjadi bagian penting dari positioning modernnya.

Kompetisi

Antangin beroperasi di pasar yang sangat khas di Indonesia: obat herbal untuk masuk angin. Kompetitor utamanya adalah Tolak Angin yang diproduksi oleh Sido Muncul. Kedua merek ini telah bersaing memperebutkan pengenalan konsumen selama bertahun-tahun dan sering dibahas bersamaan dalam literatur pemasaran Indonesia. Penelitian akademis secara khusus menelaah persaingan antara Antangin dan Tolak Angin dalam kategori obat masuk angin.

Persaingan keduanya menarik karena kedua merek pada dasarnya menjual proposisi budaya yang sama—peredakan herbal saat seseorang merasa “masuk angin”—namun membedakan diri melalui:

  • Formulasi
  • Kemasan
  • Gaya iklan
  • Selebriti/duta merek
  • Slogan
  • Positioning emosional
  • Varian produk

Sponsorship dan Budaya Populer

Antangin juga memanfaatkan olahraga sebagai bagian dari strategi pembangunan mereknya. Salah satu contoh nyata adalah hubungannya dengan klub sepak bola Indonesia Persebaya Surabaya. Antangin pertama kali mensponsori Persebaya pada tahun 2017, dan kemitraan tersebut kemudian diperpanjang. Pada tahun 2026, kedua pihak mengumumkan kemitraan baru selama tiga musim yang berlangsung hingga 2028. Antangin mengaitkan kemitraan ini dengan gagasan “Pejuang Pantang Tumbang” dan semangat juang Persebaya.4

Hal ini selaras dengan positioning kontemporer merek: Antangin sebagai pendamping bagi mereka yang terus berjuang meski dilanda kelelahan atau kesulitan.

Status Regulasi

Produk Antangin dipasarkan sebagai obat tradisional/produk herbal, bukan obat farmasi konvensional seperti antibiotik.

Basis data regulasi Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Indonesia memuat pendaftaran untuk berbagai formulasi Antangin. Misalnya, basis data tersebut mencantumkan Antangin JRG, Antangin Junior, Antangin Mint, Antangin Habbatussauda, dan Antangin Good Night di antara produk obat tradisional yang terdaftar.

Oleh karena itu, setiap formulasi harus dipertimbangkan secara terpisah ketika membahas bahan, indikasi, dosis, atau klasifikasi regulasi.

Perkembangan Merek Terkini

Branding Antangin semakin bergeser dari sekadar pesan “Minum ini saat masuk angin” menuju proposisi emosional yang lebih luas: “Anda adalah seseorang yang terus melangkah—dan Antangin adalah pendamping Anda.”

Kampanye “Pejuang Pantang Tumbang” merepresentasikan transisi ini dengan baik. Deltomed mendeskripsikan Antangin sebagai pendamping suportif bagi orang-orang yang menghadapi tekanan kehidupan sehari-hari, sementara kampanye 2026 bersama Dian Sastrowardoyo melanjutkan positioning ini.13

Dengan kata lain, produk fungsionalnya adalah pereda herbal, sedangkan ide merek kontemporernya adalah ketangguhan.

Signifikansi dalam Budaya Konsumen Indonesia

Antangin menarik untuk dikaji melampaui industri kesehatan karena merepresentasikan modernisasi jamu. Obat herbal tradisional Indonesia secara historis diasosiasikan dengan racikan rumahan, rempah-rempah, jamu serbuk, penjual tradisional, dan praktik kesehatan adat.

Antangin mengambil banyak asosiasi tersebut dan mengemasnya menjadi produk konsumen bermerek yang terstandarisasi dan diproduksi massal.

Evolusinya dari konsep jamu tradisional menjadi tablet, sachet cair, produk anak, varian mint, dan formulasi khusus lainnya mengilustrasikan bagaimana obat herbal Indonesia beradaptasi dengan kebiasaan konsumen modern. Pengenalan historis Antangin JRG dalam bentuk tablet sangat signifikan karena membedakan produk ini dari produk herbal serbuk yang umum pada masa itu.2

Linimasa

Tahun Peristiwa
1976 Deltomed Laboratories resmi didirikan di Banjarmasin dan meluncurkan Pil Ampuh.1
1980-an Pendahulu Antangin, yang dilaporkan bernama “Antingin”, berkembang sebagai obat herbal.2
1988 Produksi Deltomed pindah dari Banjarmasin ke Wonogiri pasca-akuisisi oleh Purwanto Rahardjo.1
1990-an Nama Antingin berevolusi menjadi Antangin/Antangin JRG; merek semakin diposisikan sebagai obat herbal modern.
1997 Era kampanye promosi massal Antangin JRG tercatat dimulai sekitar periode ini.2
2003 Formulasi cair Antangin JRG diperkenalkan.2
2010-an Antangin berekspansi ke berbagai varian dan bentuk sediaan.
2018 Portofolio Deltomed mencakup Antangin Habbatussauda, Antangin Junior, dan merek herbal lainnya.1
2020-an Positioning merek semakin menekankan ketangguhan dan ketekunan sehari-hari.
2024 Kampanye “Pejuang Pantang Tumbang” mendapat pengakuan dalam arsip periklanan Citra Pariwara Indonesia.
2026 Antangin melanjutkan platform “Pejuang Pantang Tumbang” bersama Dian Sastrowardoyo dan memperbarui kemitraan Persebaya hingga 2028.34

References

Profil ini disusun dengan bantuan AI dan telah ditinjau sebelum dipublikasikan. Cara kami menggunakan AI

Brand terkait