I Indonesia Brand Wiki

Tentang Exsport

Exsport adalah merek gaya hidup dan barang bawaan (carry goods) asal Indonesia yang dikenal melalui produk tas, ransel, serta aksesori harian. Didirikan pada tahun 1979 di Bandung, Jawa Barat, Exsport merupakan salah satu merek tas lokal tertua yang masih beroperasi hingga kini. Merek ini bermula dari usaha awal wirausahawan Ronny Lukito dan kemudian menjadi bagian dari ekosistem bisnis yang juga menaungi Eiger dan Bodypack.

Saat ini, Exsport memposisikan diri dalam ranah perjalanan harian, mode, budaya anak muda, dan gaya hidup, bukan sebagai penyedia perlengkapan luar ruang teknis. Situs web resminya mendeskripsikan Exsport sebagai “merek carry goods” yang berdiri sejak 1979 dengan lini produk berupa ransel, tas selempang, tote bag, dan aksesori.1

Ikhtisar

Exsport
Jenis Merek gaya hidup / barang bawaan
Negara Indonesia 🇮🇩
Asal Bandung, Jawa Barat
Didirikan 1979
Pendiri Ronny Lukito
Usaha awal Tas dan tas sekolah
Produk utama Ransel, tas, barang bawaan, aksesori
Target audiens Awalnya remaja dan pelajar; kemudian meluas ke konsumen muda/gaya hidup
Merek terkait Eiger, Bodypack, dan lainnya dalam sejarah bisnis yang sama
Posisi saat ini Barang bawaan harian yang modis dan bernuansa muda
Situs web resmi Exsport Bags

Sejarah

1979: Awal Mula

Kisah Exsport bermula pada tahun 1979, ketika Ronny Lukito merintis usaha industri rumahan pembuatan tas di Bandung. Berdasarkan catatan sejarah pabrikan, usaha ini pada awalnya memproduksi tas sekolah.1

Skala operasinya sangat kecil jika dibandingkan standar masa kini. Ronny memulai produksi hanya dengan dua mesin jahit dalam sebuah industri rumahan sederhana. Produk pertamanya kala itu menggunakan nama RR, yang merupakan singkatan dari Ransel Ronny.

Periode ini menjadi tonggak penting karena Exsport secara efektif menjadi titik awal dari bisnis produk gaya hidup Indonesia yang kelak berkembang jauh lebih besar.

Dari Exxon Menjadi Exsport

Merek ini mengalami perubahan nama yang signifikan. Ronny awalnya menggunakan nama Exxon, namun hal tersebut menimbulkan masalah hukum dan merek dagang akibat kesamaan dengan perusahaan minyak Exxon. Nama tersebut kemudian diubah menjadi Exsport, yang lazim dijelaskan sebagai akronim dari “Exxon Sporty.”13

Ejaan Exsport dengan huruf “s” akhirnya ditetapkan sebagai identitas merek yang khas.

Dekade 1980-an: Dari Industri Rumahan ke Pabrik

Seiring meningkatnya permintaan, bisnis ini berekspansi melampaui skala industri rumahan. Pada tahun 1984, perusahaan mendirikan pabrik di Jl. Bihbul Raya, Kopo, Bandung.

Target pasar awal Exsport sangat spesifik, yakni remaja berusia sekitar 12–20 tahun, dengan produk yang diposisikan pada segmen mode dan menengah atas.2

Akibatnya, merek ini membangun identitas yang berbeda dari produsen tas sekolah yang murni fungsional. Tas kini diperlakukan sebagai aksesori mode dan gaya hidup.3

Hubungan dengan Eiger

Salah satu aspek menarik dari Exsport adalah hubungannya dengan Eiger. Exsport sebenarnya hadir satu dekade lebih dulu daripada Eiger. Ronny Lukito meluncurkan Eiger pada tahun 1989, yang awalnya difokuskan pada produk luar ruang dan petualangan.2

Kedua merek ini kemudian mengembangkan identitas yang berbeda:

  • Exsport → Anak muda, mode, gaya hidup harian, sekolah/kampus, dan perjalanan santai.
  • Eiger → Rekreasi luar ruang, petualangan, dan gaya hidup teknis.
  • Bodypack → Gaya hidup urban/profesional dan barang bawaan berbasis teknologi.

Perbedaan ini tercermin dalam portofolio merek perusahaan: Exsport ditujukan untuk sekolah, nongkrong, dan bepergian, Eiger untuk aktivitas luar ruang, sedangkan Bodypack menyasar gaya hidup perkotaan.3

Selama bertahun-tahun, Exsport dan Eiger terhubung dalam ekosistem bisnis yang sama, meskipun konsumen mengenal keduanya sebagai entitas merek yang terpisah.

Evolusi Produk Exsport

Exsport bermula dengan fokus pada tas sekolah dan ransel, namun jangkauan produknya kini telah berkembang pesat. Katalog modernnya mencakup berbagai kategori seperti:

  • Ransel
  • Tas selempang (sling bag)
  • Tote bag
  • Tas harian
  • Barang bawaan perjalanan
  • Aksesori
  • Tas personalisasi
  • Kolaborasi dan koleksi spesial

Situs web resmi saat ini menyajikan Exsport sebagai merek barang bawaan yang berfokus pada “kebutuhan perjalanan abadi”.4

Frasa tersebut menandai evolusi dari identitas asli merek yang semula sekadar perusahaan tas sekolah.

Reposisi dan Identitas Merek

Aspek menonjol dalam sejarah Exsport adalah frekuensi reposisi dan perancangan ulang identitas mereknya. Sebuah tinjauan retrospektif mencatat bahwa Exsport telah melewati sekitar delapan fase rebranding selama empat dekade pertama. Posisinya bergeser melalui berbagai identitas, meliputi:

tas sekolah → sporty maskulin → sporty kasual → feminin ceria → feminin minimalis → produk anak-anak

5

Evolusi berkelanjutan ini sebagian merupakan upaya agar tetap relevan di tengah perubahan preferensi konsumen. Namun, hal tersebut juga memunculkan tantangan: identitas merek menjadi kurang jelas. Pembahasan SBM ITB tahun 2025 menyebutkan bahwa Exsport mengalami penurunan bisnis antara kurun waktu 2015 hingga 2020 akibat krisis identitas. Merek ini sempat bereksperimen dengan identitas maskulin, feminin, dan lainnya, sehingga kesulitan mempertahankan arah yang konsisten.2

Kondisi ini menjadikan Exsport studi kasus menarik dalam dunia branding Indonesia: tantangannya bukan sekadar kualitas produk atau distribusi, melainkan menjawab pertanyaan mendasar, “Apa sebenarnya yang diusung oleh Exsport?”

Exsport Modern

Belakangan ini, Exsport bergerak menuju identitas yang lebih koheren, yakni gaya hidup anak muda yang berorientasi pada mode. Alih-alih bersaing langsung dengan merek luar ruang teknis, Exsport menekankan peran tas sebagai bagian dari gaya pribadi sehari-hari.

Semesta produknya kini menampilkan desain penuh warna dan sadar mode yang ditujukan untuk aktivitas seperti:

  • Berangkat sekolah atau kuliah
  • Bersosialisasi (hangout)
  • Komuter
  • Bepergian
  • Aktivitas urban harian
  • Acara sosial kasual

Hal ini sangat berbeda dari posisi Eiger yang berorientasi pada petualangan. Secara sederhana:

Eiger bertanya: “Apa yang saya butuhkan untuk petualangan saya?”

Exsport bertanya: “Apa yang ingin saya bawa dalam perjalanan harian saya?”

Perbedaan tersebut menjadi cara praktis untuk memahami pemisahan kedua merek ini.

Filosofi Merek

Identitas Exsport saat ini dibangun di atas konsep perjalanan (journey). Situs resminya menyatakan bahwa merek ini didirikan untuk menciptakan “kebutuhan perjalanan abadi dengan detail yang halus.”4

Konsep “perjalanan” di sini memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar bepergian secara fisik, melainkan mencakup:

  • Proses tumbuh dewasa
  • Kehidupan sekolah dan kampus
  • Pertemanan
  • Pekerjaan
  • Perjalanan wisata
  • Ekspresi diri
  • Pengalaman harian

Dengan demikian, tas berfungsi lebih dari sekadar wadah barang: ia menjadi aksesori yang menemani konsumen melewati berbagai fase kehidupan.

Bahasa Desain

Meskipun Exsport kerap bereksperimen dengan gaya visual, terdapat sejumlah karakteristik yang konsisten muncul dalam produknya:

Berorientasi pada Anak Muda

Merek ini secara tradisional menargetkan konsumen muda, khususnya pelajar dan dewasa awal. Perusahaan manufakturnya secara eksplisit mendeskripsikan target pasarnya sebagai remaja berusia 12–20 tahun.2

Sadar Mode

Berbeda dengan produsen ransel yang murni fungsional, Exsport memperlakukan tas sebagai produk mode. Warna, siluet, grafis, dan penataan gaya menjadi elemen penting dalam strategi produknya.

Kasual

Exsport umumnya menempati ruang antara fungsionalitas sekolah/kerja dan aksesori mode.

Serbaguna

Produk-produknya dirancang agar sesuai untuk berbagai konteks harian, bukan untuk satu aktivitas khusus yang sangat terspesialisasi.

Latar Belakang Manufaktur

Akar Exsport memiliki tempat istimewa dalam perspektif industri Indonesia. Perusahaan ini bermula sebagai industri rumahan kecil di Bandung pada 1979 yang kemudian mengembangkan infrastruktur manufaktur. PT Eksonindo Multi Product Industry mendeskripsikan dirinya sebagai produsen yang berspesialisasi dalam tas dan peralatan terkait, dengan asal-usul dari operasi tahun 1979 tersebut.6

Hal ini memberikan Exsport posisi penting dalam sejarah industri tas lokal Indonesia: merepresentasikan transisi dari operasi manufaktur keluarga/rumahan menjadi bisnis barang konsumsi bermerek yang substansial.

Ekosistem Merek

Sejarah Exsport tidak dapat dilepaskan dari perkembangan bisnis Ronny Lukito secara keseluruhan. Garis waktu sederhananya adalah sebagai berikut:

1979
Ronny Lukito memulai usaha tas kecil-kecilan di Bandung.

Akhir 1970-an–1980-an
Usaha ini mengembangkan merek Exsport.

1984
Manufaktur berekspansi ke pabrik khusus.

1989
Eiger diluncurkan dengan fokus pada produk luar ruang/petualangan.7

Dekade 1990-an
Merek tambahan, termasuk Bodypack, hadir untuk menyasar segmen pasar yang berbeda.

2000-an–2010-an
Portofolio tumbuh menjadi bisnis tas/gaya hidup utama di Indonesia.

2015–2020
Exsport menghadapi tantangan identitas/reposisi.8

2020-an
Exsport semakin menegaskan identitas gaya hidup/mode anak muda yang khas dan mengembangkan arah mereknya sendiri.91011

Perbandingan Exsport dan Eiger

Perbandingan ini penting karena publik terkadang menganggap Exsport hanyalah versi kecil dari Eiger.

Exsport Eiger
Tahun berdiri 1979 1989
Asal mula inti Tas / tas sekolah Tas/peralatan luar ruang
Identitas utama Gaya hidup & mode Petualangan/luar ruang
Konsumen tipikal Anak muda, pelajar, pengguna harian Penggemar alam & konsumen petualangan
Filosofi produk Barang bawaan harian Performa luar ruang
Karakter visual Kasual, muda, berwarna Tangguh, teknis, berorientasi petualangan
Penggunaan umum Sekolah, kampus, komuter, nongkrong, jalan-jalan Mendaki, berkemah, berkendara, aktivitas alam

Perbedaan ini bersifat disengaja: sejarah resmi Eiger menyebut asal-usulnya dari produk petualangan, sementara sejarah manufaktur Exsport mengidentifikasi pasar aslinya sebagai remaja dan konsumen yang berorientasi pada mode.9

Exsport Saat Ini

Hingga tahun 2026, Exsport terus beroperasi sebagai merek barang bawaan/gaya hidup Indonesia. Toko daringnya menawarkan beragam tas seperti ransel, tas selempang, dan tote bag, beserta aksesori dan koleksi lainnya. Merek ini juga mengiklankan garansi seumur hidup yang mencakup perbaikan produk tertentu, termasuk masalah jahitan dan ritsleting.10

Perkembangan penting terkini adalah pergerakan menuju kemandirian strategi merek. Catatan SBM ITB tahun 2025 melaporkan bahwa Exsport memilih strategi pemisahan (spin-off) agar dapat bergerak lebih lincah serta membangun budaya dan identitasnya sendiri tanpa tertutup oleh bayang-bayang Eiger.11

Hal ini menjadikan periode sekarang sebagai salah satu bab terpenting dalam sejarah Exsport.

Signifikansi Budaya di Indonesia

Exsport memegang posisi istimewa dalam budaya konsumen Indonesia karena statusnya sebagai merek lokal warisan yang telah eksis selama lebih dari empat dekade.

Bagi beberapa generasi konsumen Indonesia, khususnya pelajar, Exsport lekat dengan pengalaman membawa ransel bermerek untuk:

  • Sekolah
  • Kuliah
  • Kegiatan ekstrakurikuler
  • Berbelanja
  • Bepergian
  • Bersosialisasi dengan teman

Usianya yang panjang juga memberikan faktor nostalgia yang kuat. Merek ini mengakui sejarahnya melalui proyek dan koleksi yang menghidupkan kembali desain Exsport lawas, termasuk Ransel RR 01 1979 yang orisinal.12

Oleh karena itu, Exsport bukan sekadar label ransel Indonesia biasa, melainkan bagian dari perkembangan industri mode dan tas lokal modern di tanah air.

Penamaan

Nama Exsport umumnya ditelusuri kembali ke nama awal Exxon, yang harus diganti akibat masalah merek dagang dengan Exxon Oil. Nama penggantinya dijelaskan sebagai singkatan dari “Exxon Sporty.”13

Inilah alasan mengapa merek ini dieja:

EXSPORT

bukan kata bahasa Inggris konvensional EXPORT.

Pendiri: Ronny Lukito

Ronny Lukito adalah wirausahawan di balik Exsport dan imperium bisnis yang lebih luas, tempat lahirnya merek-merek seperti Eiger dan Bodypack.

Kisahnya berkaitan erat dengan industri tas Indonesia. Ia memulai dari operasi yang sangat kecil dan akhirnya membangun bisnis produk bermerek utama dari awal tersebut. Berbagai catatan mengenai karier awalnya secara konsisten menekankan pentingnya bisnis pembuatan tas keluarganya, pengalamannya bekerja dengan tas sejak muda, serta keputusannya untuk mendirikan usahanya sendiri.2

Signifikansi Exsport dengan demikian juga merupakan kisah tentang wirausahawan Indonesia yang membangun merek konsumsi nasional dari sebuah industri rumahan.

Ringkasan

Exsport adalah merek barang bawaan dan gaya hidup Indonesia kelahiran Bandung yang didirikan oleh Ronny Lukito pada tahun 1979, awalnya dikenal melalui tas sekolah dan kemudian bertransformasi lewat berbagai rebranding menjadi merek tas harian berorientasi mode anak muda, sembari berbagi akar korporat historis dengan merek-merek besar Indonesia seperti Eiger dan Bodypack.2

References

Profil ini disusun dengan bantuan AI dan telah ditinjau sebelum dipublikasikan. Cara kami menggunakan AI

Brand terkait