Tentang Minyeuk pret
Minyeuk pret
Minyeuk pret adalah merek parfum asal Indonesia yang berasal dari Aceh. Didirikan pada tahun 2015, merek ini mengembangkan wewangian yang terinspirasi dari budaya Aceh, sejarah lokal, dan bahan-bahan alami Indonesia, terutama nilam Aceh. Minyeuk pret memposisikan dirinya sebagai jembatan antara identitas tradisional Aceh dan dunia parfum kontemporer. 1
Nama “Minyeuk Pret” berasal dari terminologi bahasa Aceh. Menurut materi yang diterbitkan oleh InvestAceh, minyeuk berarti “minyak” dan pret merujuk pada “menyemprot”, yang mencerminkan ungkapan lama dalam bahasa Aceh untuk parfum atau wewangian. Nama ini diadopsi secara sengaja untuk menekankan identitas Aceh dari merek tersebut.
Gambaran Umum
| Informasi | Detail |
|---|---|
| Merek | Minyeuk pret |
| Industri | Parfum / Perawatan Kecantikan & Tubuh |
| Produk | Parfum dan Eau de Parfum |
| Asal | Aceh, Indonesia |
| Didirikan | 2015 |
| Entitas Perusahaan | PT Yakin Bersama Jaya |
| Pendirian Korporat | 2018 |
| Kantor Pusat / Alamat Terdaftar | Lam Ara, Banda Raya, Banda Aceh, Aceh |
| Identitas Utama | Budaya Aceh, bahan lokal, dan storytelling |
| Bahan Unggulan | Minyak nilam Aceh |
| Situs Web Resmi |
Profil tahun 2026 yang dipublikasikan melalui Karya Kreatif Indonesia (Bank Indonesia) mendeskripsikan Minyeuk pret sebagai merek parfum Indonesia berbasis di Aceh dan mengidentifikasi entitas bisnisnya sebagai PT Yakin Bersama Jaya, yang didirikan pada tahun 2018 sebagai struktur hukum formal perusahaan. 2
Asal-usul
Minyeuk pret didirikan pada tahun 2015 oleh para pemuda dari Aceh dengan ide untuk mengembangkan merek parfum yang mampu mengintegrasikan identitas budaya dan sumber daya alam daerah tersebut. Cerita korporat merek ini menghubungkan asal-usulnya dengan sejarah panjang industri nilam Aceh.
Secara historis, Aceh dikenal dengan produksi nilam, dan minyak nilam Aceh telah menjadi komoditas penting dalam rantai pasokan parfum dan kosmetik internasional. Para pendiri Minyeuk pret berupaya melampaui sekadar memasok bahan mentah dengan menciptakan produk wewangian jadi yang membawa identitas Aceh yang mudah dikenali.
Filosofi ini merupakan inti dari pemosisian perusahaan: alih-alih memperlakukan bahan lokal semata-mata sebagai komoditas, Minyeuk pret mencoba mengintegrasikannya ke dalam produk konsumen bermerek yang nama, cerita, dan konsepnya terhubung dengan Aceh.
Formalisasi
Seiring berkembangnya permintaan di pasar domestik maupun internasional, para pendiri mendirikan PT Yakin Bersama Jaya pada tahun 2018. Menurut Karya Kreatif Indonesia, pendirian tersebut dimaksudkan untuk memberikan legalitas bisnis formal dan mendukung ambisi perusahaan untuk berkontribusi pada pengembangan industri parfum Indonesia.
Filosofi Merek
Identitas Minyeuk pret dibangun di sekitar tiga gagasan utama:
- Identitas Aceh — Merek ini menggunakan terminologi Aceh, tokoh sejarah, tempat, referensi budaya, dan flora lokal sebagai sumber inspirasi.
- Bahan Baku Lokal — Yang paling signifikan adalah minyak nilam Aceh, yang muncul dalam komposisi bahan yang tercantum pada beberapa produk.
- Perfumery Modern — Referensi tradisional diterjemahkan menjadi produk Eau de Parfum kontemporer yang ditujukan untuk pasar konsumen modern.
Hal ini membuat Minyeuk pret agak berbeda dari merek wewangian konvensional di Indonesia: cerita budaya adalah bagian dari arsitektur produk, bukan sekadar digunakan sebagai tema pemasaran.
Produk
Minyeuk pret telah mengembangkan beberapa koleksi wewangian dan parfum individual. Portofolionya mencakup baik wewangian uniseks maupun wewangian yang dipasarkan untuk segmen gender tertentu.
Seri Legendary
Seri Legendary adalah salah satu koleksi merek yang paling mudah dikenali. Produk yang terdaftar oleh Karya Kreatif Indonesia meliputi:
- Seulanga
- Meulu
- Coffee
Wewangian Seulanga mengambil inspirasi dari bunga seulanga, yang dikaitkan dengan Aceh. Formulasi yang tercantum mencakup minyak nilam dan minyak esensial, dan produk ini adalah Eau de Parfum dalam format 30 ml.
Situs web resmi merek menggambarkan karakter Seulanga sebagai lembut dan manis, sambil menghubungkan profil aromanya dengan suasana alam Aceh.
Seri Putroe Phang
Koleksi berorientasi budaya lainnya adalah Seri Putroe Phang, yang diwakili oleh Kamaliah.
Kamaliah terinspirasi dari Putroe Phang, putri Pahang yang dikaitkan dengan Sultan Iskandar Muda dari Aceh. Wewangian ini menggunakan komposisi floral dan dijual sebagai Eau de Parfum 50 ml. Bahan-bahan yang tercantum termasuk etanol, minyak esensial, propilen glikol, aquades, dan minyak nilam Aceh. 3
Pemilihan Putroe Phang sebagai inspirasi menunjukkan bagaimana Minyeuk pret menggunakan tokoh-tokoh sejarah dan budaya sebagai bagian dari storytelling wangiannya.
Aceh Fusion dan seri lainnya
Portofolio produk perusahaan juga mencakup:
- Jenin — Seri Aceh Fusion Scent
- Naba — Aceh Arab Fusion Scent
- Ombak
- Daun
- Y&M Black
- Y&M Red
- Oud of Aceh
Produk-produk ini menunjukkan evolusi dari referensi floral lokal yang ketat menuju kombinasi bahan-bahan Aceh dan gaya wewangian internasional yang lebih luas.
Sebagai contoh, Oud of Aceh menggabungkan karakteristik wewangian berbasis oud dengan catatan kontras lainnya dan dikategorikan sebagai Eau de Parfum uniseks 50 ml. Formulasinya yang tercantum mencakup minyak nilam Aceh.
Nilam Aceh
Nilam mungkin merupakan hubungan bahan baku terpenting dalam cerita merek Minyeuk pret.
Perusahaan ini muncul sebagian karena minat para pendiri terhadap signifikansi historis industri nilam Aceh. Alih-alih mengekspor bahan tersebut semata-mata sebagai komoditas, pendekatan Minyeuk pret adalah mengintegrasikan nilam Aceh ke dalam produk parfum jadi dan mengasosiasikannya dengan merek regional yang dapat diidentifikasi.
Beberapa produk Minyeuk pret secara resmi mencantumkan minyak nilam Aceh di antara bahan-bahannya, termasuk Kamaliah dan Oud of Aceh.
Ini memberi merek posisi unik dalam sektor wewangian Indonesia:
Aceh → nilam → parfum → storytelling budaya → merek konsumen Indonesia yang selesai
Dengan kata lain, proposisi nilai Minyeuk pret tidak hanya pada wewangian itu sendiri, tetapi juga upaya untuk menambahkan nilai ekonomi dan budaya pada bahan yang secara historis dikaitkan dengan Aceh.





